throwback 🐾 – Agatha Christie’s

Crooked House a.k.a Buku Catatan Josephine (Indonesian edition) 



.
.
.
intermezzo
adalah buku Agatha Christie pertama yang saya baca di perpustakaan sekolah, dengan cover lawas berlatar belakang hitam dan gambar sepatu balet dan botol pil. Waktu itu tahun 2002. Perpustakaan sekolah saya masih bergaya kuno – dengan meja-meja dari kayu yang hampir menutupi setengah ruangan, pencahayaan agak remang-redup, bau kertas-kertas tua, dan tinta dari koleksi buku yang mulai menguning. Letaknya pun di lorong sudut sekolah yang jarang dilalui orang. Penjaganya seorang wanita setengah baya yang sederhana dan pendiam. Namanya Bu Sulis. 

Agaknya waktu itu, perpustakaan adalah tempat yang menjadi momok bagi sebagian orang. Setiap kali saya menjenguk tempat itu, bisa dihitung berapa orang yang datang ke sana. Beberapa orang dari yang berapa itu pun kebanyakan menjadikan perpustakaan sebagai basecamp untuk curhat atawa ngobrol dari hati ke hati. Kayaknya sampai sekarang pun, perpustakaan menjadi tempat yang enggan didatangi orang. Minat baca masyarakat mungkin bertambah dari tahun ke tahun, tapi nggak sampai menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit. 

Sejujurnya, karena Agatha Christie-lah saya jadi suka buku genre misteri detektif. Sejak pertama kali saya melalap habis Buku Catatan Josephine, saya ketagihan membaca seluruh seri novel detektifnya yang berjumlah 80 seri. Setiap hari saya ngubek di perpustakaan, membaca di tempat atau meminjam untuk dibawa pulang. Ini berlaku untuk novel-novel lainnya juga, semacam Mira W., Marga T., V. Lestari, dll. Pokoknya saya terkena sindrom kutu buku waktu SMP.

Sampai saya lulus sekolah, kayaknya sekitar 30-an novel Agatha Christie yang sudah saya baca. Itu juga merupakan koleksi di perpustakaan. Agak kecewa juga karena kurang lengkap serinya.. Sempat terpikir untuk membeli sendiri, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk mengoleksi buku. 

Menginjak bangku sekolah menengah, kegilaan saya ke perpustakaan kambuh lagi. Setiap hari ke perpustakaan buat pinjam buku. Sekali pinjam bisa sampai lima buku, dan dihabiskan juga hari itu. Karena mama saya seorang pecinta buku juga, jadi beliau ikut kena manisnya membaca tanpa beli. 😁

Menurut saya pribadi, Agatha Christie itu jenius!  Dia bisa membuat cerita yang evergreen – tak lekang oleh waktu. Padahal sebagian besar novelnya ditulis pada periode sebelum Perang Dunia I lho. Hampir semua novelnya relevansi sampai dengan masa kini. Jalan cerita, metode, racun-racun yang digunakan, pelaku, alibi. Satu kata buatnya : Amazing 😍

Agatha yang notabene juga seorang mantan apoteker dan perawat pada saat Perang Dunia ini, banyak memasukkan unsur obat-obatan yang digunakannya dalam bekerja. Itulah sebabnya kebanyakan pembunuhan dalam novelnya disebabkan oleh racun. Selain pekerjaannya, pekerjaan sang suami juga berkontribusi dalam penciptaan karakter dan situasi, sehingga setiap cerita tidak monoton. 

Suaminya yang pertama adalah seorang pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I, sedangkan suaminya yang kedua adalah seorang arkeolog yang gemar meneliti benda kuno dan artefak. Ketika Agatha ikut penelitian suaminya ke Mesir, saat itu jugalah ide-idenya tentang cerita bernuansa Mesir muncul, antara lain Pembunuhan di Sungai Nil dan Pembunuhan di Mesopotamia.

Satu hal lagi yang saya suka dari novel Agatha Christie selain the story plot, yakni The Detective (!).

Karakter detektif pertama ciptaan Agatha yang nyentrik, unik, gila kerapian & kebersihan, dan super-terstruktur : Mr. Hercule Poirot – pensiunan polisi asal Belgia yang beralih profesi menjadi detektif swasta di London. Terkenal dengan kumis melintangnya yang khas, sepatu tersemir mengkilap, sel-sel kelabunya yang belum aus dan tak pernah lupa dibanggakannya, dan metode-metodenya yang rinci dan akurat dengan teori psikologinya. Kadangkala ditemani sahabatnya yang lugu dan baik hati, Mr. Arthur Hastings. Pertama kali muncul dalam cerita Pembunuhan di Styles atau The Mysterious Affair at Styles.

Karakter detektif kedua ciptaan Agatha sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Digambarkan sebagai perempuan tua yang hidup di akhir zaman Victoria, suka merajut dan berkebun : Miss Jane Marple – perawan tua yang lemah tapi manis, dengan mata biru yang lembut namun tajam, mengenal sifat-sifat manusia dengan sangat baik melalui kehidupannya sehari-hari di desa St. Mary Mead. Hidup seorang diri dengan tunjangan dari keponakannya yang penulis, Raymond West dan istrinya, Joan yang seorang pelukis. Pertama kali ditampilkan dalam cerita Pembunuhan di Wisma Pendeta atau Murder at the Vicarage.

Karakter tambahan lain ciptaan Agatha adalah Mrs. Ariadne Oliver – penulis cerita detektif yang hobi makan apel, gampang panik, berbadan gemuk, dan rambut yang penataannya selalu berbeda setiap saat. Dia adalah sahabat Poirot.

Adanya karakter-karakter itulah yang berperan membuat plot cerita menjadi serius atau mengalir tenang. Misalnya, cerita dengan detektif Poirot akan terasa lebih serius dan cenderung tertata. Namun, cerita dengan detektif Miss Marple terasa lebih tenang.

Saya sendiri cenderung lebih suka bila Miss Marple yang jadi detektifnya. Hahaha.. Sayangnya hanya dalam 20 judul Miss Marple hadir. Sisanya oleh Poirot atau tokoh cerita. 

Judul favorit saya adalah : Lalu Semuanya Lenyap / 10 Anak Negro atau And Then They Were None / 10 Little Niggers dan of course Buku Catatan Josephine.

Sampai sekarang, Agatha Christie tetap menjadi penulis favorit pertama saya ❤

March 2017,
Revita L. Kusnawa

Inspirasi Puisi yang Berbeda Setiap Waktu

Menulis puisi buat saya tidak gampang. Kadang saya bisa menyusun puisi dengan kata-kata yang mampir dalam pikiran saya, tapi lebih sering saya membutuhkan banyak inspirasi untuk membuat tiap baitnya. Tidak sekedar mencampur adukkan kata-kata yang kedengarannya puitis.

Biasanya, inspirasi saya datang dari film yang sedang saya tonton, buku yang saya baca, atau lagu yang saat ini menjadi favorit saya, yang bisa saya putar berkali-kali tanpa merasa bosan.

Kali ini, yang menjadi inspirasi saya adalah sebuah lagu ballad era 1960-an yang merefleksikan sebuah potret kemanusiaan, sebuah situasi yang dialami orang-orang Yahudi selama masa Holocaust. Judulnya adalah Donna Donna / Dana Dana / Dos Kelbl / The Calf / Anak Sapi. Lagu ini awalnya merupakan sebuah lagu teater Yiddish. 

Saya memang bukan pecinta lagu ballad. Tapi begitu melihat scene sebuah film dokumenter dimana lagu ini dinyanyikan dengan iringan petikan gitar, saya jatuh cinta. 

Diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan dikomposeri oleh Sholom Secunda (1894-1974), lagu yang awalnya berbahasa Yiddish ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz pada pertengahan tahun 1950-an. Pada tahun 1960, lagu ini dinyanyikan oleh Joan Baez, dan pada tahun 1965, dinyanyikan kembali oleh Donovan. Tahun 2005, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia, Sita RSD sebagai pengisi soundtrack film dokumenter Gie. Favorit saya adalah yang versi Sita. ❤

Irama ballad yang khas dan sederhana dengan lirik perumpamaan seekor anak sapi yang akan disembelih dan seekor walet yang terbang bebas ini sungguh membuat saya trenyuh dan terbayang korban-korban Nazi yang dibunuh dalam kamar gas waktu itu. Inilah yang menjadi dasar puisi-puisi saya saat ini, yang lebih menyoroti potret kemanusiaan. Potret antara si kaya dan si miskin, sang penguasa dan si tertindas. 

Buat saya, lagu ini adalah lagu sepanjang masa. Relevan untuk masa itu, relevan juga hingga kini. Di setiap belahan dunia, saya rasa lagu ini juga memiliki relevansi 🙂

Saya kagum sekali dengan penulis lagu ini, yang mampu merefleksikan dengan jelas kondisi sosial masa itu dengan kiasan-kiasan yang tepat. Saya hampir yakin bahwa setiap orang yang mendengarkan lagu ini juga akan tersentuh dan terngiang-ngiang situasi kelam itu. 

Sepenggal Kata Minggu Pagi

di sisi cangkir kopi, aku duduk bersama remah roti yang mulai basi, menatap orang-orang tua yang mengantri untuk mendapat sesuap nasi

lagu balada mengalun liris, seakan memperjelas nasib mereka
tongkat-tongkat kayu saling beradu dalam barisan, juga topi-topi kumal yang sudah lusuh dan bersulam
bersisian wanita-wanita berpegangan tangan sambil berdoa
semoga Tuhan tidak libur hari ini

bayi-bayi menangis sementara anak-anak kecil mengais-ngais
untuk sekedar menemukan sedikit apa saja yang terbagi

di sisian lain ada para orang yang berdasi
memesan kopi hari ini
espresso, cappuccino, dan macchiato
sementara di udara lagu pop bergaung seakan tak peduli

aku menyesap kopiku perlahan dan mendesah dalam hati
beginikah balada negeri ini?
terisap ampas-ampas kopi yang pahit
hanya menyisakan sengit dan pailit

sesenggukan tangis dan air mata bergantian turun menyungai di pipi
hatiku berdesir tapi hanya bisa melihat dari yang tak tampak mata

karung-karung kain dibagikan, harganya hampir sama dengan segelas kecil kopi Eropa
aku jadi tahu rasanya neraka di bumi, yang bersisian dengan surga

Secangkir Kopi di Surga
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

> > >

gerimis melukis langit
aroma tanah mengusik sepiku
menabur narwastu

tetiba aku rindu..
pada semua yang melekat padamu

kaca jendela bagaikan bersalju
tertutup remang rintik hujan
tak ada kulihat apa-apa
sekalipun itu bayang-bayang

aku seperti orang kesasar yang tak tahu kemana harus pergi,
ke sisian mana aku harus berlalu?
ke tepian mana aku harus berlabuh?

menatap di kejauhan seperti menatap dekat matamu
yang sebulat mata kaca
dan sebening embun pagi

mendadak aku ingin diam saja
membiarkan detik bersua dengan pelangi di ujung senja

jendelaku terembes air tawar
memasuki kisi-kisi persis seperti bayanganmu pada benakku
begitu ragu begitu sendu

terbit di angan
kau berdua dengannya di sana
seperti aku berdua dengan bayanganku

Hujan Hari Ini
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317


Wednesday • [Review] – Skincare : Shiseido Senka Mineral Water UV Essence

Halo semua! 

Di postingan ini, aku akan me-review produk skincare dari lini Shiseido. Pasti sudah pada tahu Shiseido kan? 

Shiseido (株式会社資生堂 Kabushiki-gaisha Shiseidō?, Japanese: [ɕiseeꜜdoː]) adalah perusahaan multinasional Jepang yang memfokuskan diri pada produk personal care, seperti perawatan rambut, kulit, kosmetik, dan parfum. Shiseido didirikan pada tahun 1872 oleh Arinobu Fukuhara, seorang kepala farmasi di Japanese Imperial Navy. Nama Shiseido berarti “praise the virtues of the earth which nurtures new life and brings forth significant values.” 

Produk skincare yang akan aku ulas kali ini adalah sunscreen Shiseido Senka. 

Sudah lama aku mencari produk sunscreen yang cocok di kulit aku yang oily, sensitive, dan acne clogged proneAku tertarik mencoba produk Shiseido Senka ini karena klaimnya yang menggoda : 
water-based dari air Gunung Fuji
• cocok untuk kulit sensitif
• memiliki proteksi cukup besar  (SPF 50+ PA ++++) ❤
• tidak menimbulkan white cast
• mempunyai kandungan Coenzyme Q10 & Hyaluronic Acid untuk mencegah penuaan dini
• tidak menutup pori-pori
• tidak memerlukan double cleansing!

It sounds so tempting, right?  *buat aku, ini semacam penyelamat.. soalnya kadang kalau kecapekan bangett aku suka skip pake cleansing gel / micellar water*

Setelah dua mingguan menunggu PO, akhirnya si Senka ini sampai juga ke tangan aku ❤

Packaging

It comes with very cute bright yellow-orange colour! 😍

Jarang-jarang kan ada kemasan skincare yang warnanya kuning ngejreng gini? Hehehe..

Shiseido Senka ini hadir dalam satu ukuran handy size 50 g. Berbentuk tube dengan tutup model ulir seperti sunscreen kebanyakan, tapi tutupnya gampang banget keputer 😐 jadi rawan bocor kalau kepencet. Plastik tubenya juga tipiss banget, mudah sobek. So, hati-hati ya kalau mau dibawa travelling. Pastiin tutupnya rapat dan jangan ditaruh berdekatan dengan benda tajam seperti gunting.

Waktu beli, aku kelupaan baca ingredients-nya! Padahal ini salah satu hal yang ga boleh aku lewatkan mengingat jenis kulitku. Aku biasa memakai produk skincare yang tanpa kandungan parfume/fragrance karena pewangi kadang bisa menimbulkan iritasi pada kulitku. 

Sempat ragu-ragu juga produk ini ada pewanginya atau ga.. Soalnya takut banget bikin jerawatan lagi. Mau baca keterangan di karton kemasannya juga ga bisa, karena pakai huruf Hiragana semua 😶. Akhirnya aku googling lagi dan untungnya ada review yang bilang kalau produk ini fragrance free, mineral oil free, dan allergy tested.  So, let’s try 🍶

Shiseido Senka ini teksturnya watery dan ringan sekali, tidak lengket, mudah dibaurkan di kulit karena water-based, dan menyerapnya juga relatif cepat. Sekitar 2 menit sudah terserap sempurna. Klaimnya tentang tidak adanya white cast terbukti! Kelihatan natural banget seperti tanpa sunscreen. Final result nya sedikit dewy, tapi efeknya buat kulit jadi terlihat glowing sehat. Sukaaa banget.. Kulitku juga tidak mengalami yang namanya breakout, gatal-gatal, atau iritasi. Padahal aku memakai ini waktu sedang kedatangan beberapa papula di wajahku. Love love love it ❤

Untuk klaim mudah dibersihkan tanpa double cleansing, produk ini proof it perfectly. Produk ini not waterproof, jadi mudah dibersihkan cuma dengan pakai facial foam. Tidak meninggalkan residu juga di kapas setelah cuci muka. Tapi klaim ini aku coba hanya untuk buktiin supaya bisa direview di blog ini 😊. Setelahnya.. aku balik lagi ke rutinitas awalku, double cleansing. Hehe.. Soalnya gimana gitu. Sejak rutin melakukan double cleansing, jadi ada yang ilang kalau ga ada step pertama. Aku juga orangnya parnoan, takut jerawatan lagi.

At least aku harus mengakui kalau produk ini jempolan sekali ✌. 

Sayangnya, produk ini belum ada di Indonesia. Di Jepang pun kadang-kadang stoknya habis, karena memang produk ini masuk dalam salah satu produk favorit disana. Harus restock jauh sebelum abis isinya. Untuk harganya, menurutku masih affordable. Bisa dicek sendiri yaa di online shop…

Totally rated 5 of 5 🍒
This should be my holy grail

Where I buy it? 👀
Cherry Cosme
instagram : cherry_cosme

[Review] – Buku : Tidak Ada New York Hari Ini

puisi M. Aan Mansyur | foto Mo Riza
tebal 180 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku puisi pertama yang saya punya, gara-gara puisinya Rangga di sekuel film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah hampir setahun buku ini di-launching, bertepatan dengan launching filmnya, tapi saya baru tahu dua bulan lalu. Itu pun gara-gara nonton filmnya lebih dulu di komputer *saya ga nonton di bioskop karena saya kudet agak lama*. Padahal, review-nya sendiri sudah banyak banget di internet. Belum lagi dulu jadi trending topic di twitter. Telat banget ya saya… Hahaha.. Tapi mumpung belum terlalu terlambat, saya akan coba mengulas buku ini. 

Film AADC memang berkaitan sekali dengan puisi-puisi romantis karya Rangga. Meskipun Rangga itu nyebelin, tapi kalau sudah nulis puisi… dalemm banget rasanya. 

Bagi saya, puisi itu seni. Saya bilang seni, karena ga setiap orang bisa lho bikin puisi yang bisa bikin orang yang baca kebat-kebit. Puisi itu kata-kata yang interpretasinya harus dilakukan dengan hati. Buat saya, puisi itu ungkapan hati yang kadang njelimet dipahami. Biasanya orang yang suka puisi itu orangnya juga romantis.. Hehehe *abaikan*

Balik lagi ke bukunya. 

Dalam buku ini ada 31 buah puisi (kalau ga salah hitung) yang diciptakan oleh Aan Mansyur. Semuanya merupakan ungkapan hati Rangga – kegalauan, kesedihan, kesendirian, dan dilemanya. Saya kira ini kumpulan puisinya selama seratus delapan purnama semenjak putus dari Cinta.

Beberapa di antaranya dinarasikan oleh Rangga di film. Masih ingat kan, scene-scene film dimana puisi-puisinya muncul?

Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, 

Kau yang dingin di kenang

(Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. 
(Pukul 4 Pagi, hal. 12)

Aku seperti menyalami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu. 
(Pagi di Central Park, hal. 22)

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 
(Batas, hal. 46)

Dalamm banget kan artinya? 

Sebagai pecinta dan penikmat puisi, buku ini menarik untuk dibaca. Pilihan diksinya sederhana, kata-kata yang banyak kita dengar setiap hari. Tapi, rangkaiannya sungguh mengagumkan. Maknanya begitu apa ya? Saya bingung memilih istilah yang cukup tepat untuk puisi-puisi ini..

Buku ini dilengkapi dengan New York street photography karya Mo Riza. Menggambarkan suasana yang dihadapi Rangga setiap hari, foto-foto ini terkonsep dengan apik. Saya membayangkan foto-foto ini adalah karya Rangga, kan di sekuelnya, Rangga punya hobi fotografi..

Saya belum membaca buku-buku karya Aan Mansyur lainnya, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila, dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, tapi setelah buku puisi ini, sepertinya perburuan saya akan berlanjut. Hehehe.. 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

[Review] – Film : Gie (2005)

Entah kenapa saya selalu merasa ketinggalan zaman kalau menyangkut film. Begitu juga dengan film ini.. Sudah turun layar selama 12 tahun, tapi saya baru mulai nonton (!).

Gie adalah sebuah film dokumenter tahun 2005, yang mengangkat kisah tentang kehidupan sosok Soe Hok Gie – seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia – yang begitu mendambakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam ke atas akan politik dan demokrasi seluruhnya ditulis dalam buku hariannya, yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Beberapa dituliskan dalam bentuk puisi. 

Saya mimpi tentang sebuah dunia, 
Dimana ulama – buruh dan pemuda, 
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan, 
Stop semua pembunuhan atas nama apapun. 
Dan para politisi di PBB, 
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, 
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, 
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, 
Agama apa pun,  ras apa pun,  dan bangsa apa pun, 
Dan melupakan perang dan kebencian, 
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 
Tuhan –  Saya mimpi tentang dunia tadi, 
Yang tak akan pernah datang. 

Selasa, 29 Oktober 1968
Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore (pada usia 14 tahun). Karena itulah, pemikiran-pemikirannya semakin terbuka luas. Gie dikenal teguh mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Bahkan di sekolah, dia berani melawan guru yang mengatakan sesuatu yang salah. Kata-katanya yang terkenal adalah : Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Gie aktif menyuarakan pendapatnya dan kritik-kritiknya melalui media massa dan diskusi-diskusi dalam dinding kampus. Banyak pihak menanyakan di sayap mana dia bergabung (golongan komunis atau bukan), yang tidak dijawabnya lugas melainkan dengan tulisan-tulisannya. Meskipun banyak yang menentangnya, tak sedikit pula yang mendukung pemikirannya. Sosok yang sama sekali tak takut menjadi berbeda. Saya tidak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin. 

Tan Tjin Han (karakter fiktif teman Gie dalam film), Herman Lantang (sahabat Gie di kampus), bahkan ibunya sendiri pun pernah menanyakan untuk apa Gie susah payah melawan situasi ini. Sudah tidak mendapat uang, malah memperbanyak musuh. Tapi, Gie hanya tersenyum menanggapi mereka. Ah, Ibu tidak mengerti..  

Gie adalah sosok yang fenomenal (menurut saya pribadi). Sesibuk-sibuknya dia mengkritisi pemerintah, ternyata dia juga masih punya kehidupan pribadi yang menarik untuk diulik. Mungkin kalau dibuat slogan, slogannya akan berbunyi : Buku, Pesta, dan Cinta. 

Dalam filmnya, Gie diceritakan suka menonton film yang diputar di auditorium, lalu mendiskusikannya. Dia juga mendirikan organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) karena kecintaannya naik gunung. 

Menurut saya,  Gie adalah sosok yang dingin tapi romantis. Meskipun dia terlihat sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Ira, puisi-puisinya menyiratkan bahwa dia mencintai teman seperjuangannya itu. Dia mencintai dengan caranya sendiri. 

#tiba-tiba saya jadi teringat sosok Rangga di film legendaris Ada Apa Dengan Cinta. Karakter yang dingin dan misterius tapi romantis hanya pada orang yang dia sayangi. Kebetulan juga yang main sama-sama Nicholas Saputra.. 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi, aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Selasa,  11 November 1969
Soe Hok Gie



Menurut saya, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kejadian yang terjadi di masa itu. Tentang demonstrasi mahasiswa UI, tentang semrawutnya kondisi pemerintahan saat itu, juga tentang keadaan rakyat yang mengenaskan. Saya mendadak teringat scene dimana Gie memberikan uang sakunya pada seorang pria yang sedang makan kulit mangga karena kelaparan. 

Gambaran itu semakin jelas dengan iringan lagu Donna Donna yang kebetulan merupakan lagu favorit Gie. Dalam film ini, Ira-lah yang menyanyikan tembang ini diiringi petikan gitarnya. Saat matanya tak sengaja menatap mata Gie, saya seperti bernarasi sendiri seolah jadi Ira. Gie, saya selalu bersamamu dan mendukungmu. Kadang saya pikir, lagu itu diciptakan untuk Gie bukannya untuk korban Nazi.

Di akhir film, dimana Gie dilukiskan sedang membayangkan melihat masa lalunya bersama Han, diselingi narasi puisinya, saya selalu meneteskan air mata. Saya juga tak tahu kenapa, tapi scene itu benar-benar seperti meluapkan perasaan terdalam saya. Seseorang yang bersedih mengingat bahwa dia telah ditinggalkan sahabatnya yang selalu mendukungnya. Han ditangkap karena dia mendukung golongan komunis. Seorang yang dalam kadang tak dihargai, tapi masih mampu untuk berjuang. 

Saya semakin kagum dengan sosok Gie mengingat dia adalah kaum minoritas, tapi dia begitu memperjuangkan kaum mayoritas. Semestinya, Indonesia membutuhkan kembali orang-orang seperti Gie.

Ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya tonton! 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

[Review] – Buku : AKU – Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

oleh Sjuman Djaya
tebal 155 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali saya kenal buku ini waktu kelas 1 atau 2 SMP. Agak lupa kapan tepatnya.. tapi yang pasti setelah film Ada Apa Dengan Cinta booming di kalangan para remaja tahun 2002. Buku ini sangat berjasa mempersatukan Rangga dan Cinta, karena kalau ga ada buku ini, mereka ga akan bisa ketemu. Hehehe..

Tapi waktu itu saya masih ga ada niatan untuk beli – apalagi baca – buku ini. Padahal waktu itu saya mulai jadi meniatkan diri menjadi pecinta sastra. Setelah masa booming-nya kelar, perlahan-lahan buku ini juga hilang dari ingatan. Sampai sekian purnama berlalu, baru tahun ini saya keinget sama buku ini. Ingetnya juga gara-gara iseng nonton AADC lagi (😛), terus kebawa perasaan waktu Rangga dan Cinta bebarengan baca quote-nya Chairil di kursi panjang depan ruang mading.

Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing..

Akhirnya, saya beli buku ini awal bulan lalu. Satu hal yang terlintas di pikiran saya waktu pertama kali baca adalah “Harusnya baca buku ini dari 15 tahun lalu.” 

Di filmnya kan diceritakan kalau waktu Rangga membaca buku ini, dia memerlukan tempat yang sepi dan konsentrasi yang tinggi (sampai ngelempar pulpen segala ke muka orang waktu berisik di perpustakaan..), ternyata memang benar!  Buku ini benar-benar menguras konsentrasi, karena tiap-tiap pergantian suasana diceritakan dalam bentuk sajak. Jadi harus benar-benar butuh tempat yang sepi, Diksi sajaknya juga puitis (beberapa cenderung sulit dimengerti) khas pujangga dan sangat berjiwa. Benar-benar melukiskan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Padahal, buku ini sebenarnya merupakan skenario film lho, yang diciptakan oleh Sjuman Djaya karena dia sangat mengidolakan Chairil Anwar. Skenario ini mungkin malah akan jadi film kalau Sjuman Djaya-nya ga keburu meninggal. 

Buku ini menceritakan kehidupan sosok Chairil mulai dari perpisahan ibu dan ayahnya sampai sifatnya yang gila membaca, bahkan sambil berjalan pun dia membaca! (hal. 20). Kemanapun dia pergi, pasti ada buku yang dibawanya. Selain kutu buku, sosok Chairil juga digambarkan sebagai seorang pria yang mudah tertarik pada wanita, sebut saja Marsiti, Dien Tamaela, Sri Ayati, anak gadis keluarga Mirat, Hapsah, Roosmeini, Gadis, Ida (entah ini khayalannya atau bukan..). Sempat merasa takjub juga dengan sifatnya ini.. benar-benar tulen sebagai pujangga. Dari buku ini saya juga baru tahu kalau Chairil itu ternyata salah satu keponakan perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.

Puisi-puisi dalam buku ini diciptakan oleh Chairil pada masa penjajahan. Jadi, mayoritas puisinya bernafaskan perjuangan dan semangat, tapi banyak juga puisi yang menyiratkan perasaannya tatkala jatuh cinta, gelisah, ataupun pasrah. Beberapa di antaranya berjudul Aku, Doa, dan Krawang – Bekasi, atau Sajak Putih. 

Bersandar pada tali warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senja
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah 

Seandainya puisi di atas dinarasikan oleh Rangga… dan 
Seharusnya anak sekolahan jaman sekarang wajib baca buku ini..

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa