Tuesday Poem

di pinggir jalan kudapati wajah-wajah kusam dan berdebu
terekam dalam sendu dan risau
menggeliat dalam nestapa
melukiskan setumpuk belenggu
potret manusia dalam tiadanya

terkulai menantikan siang menjadi malam
seperti tanah tandus menantikan hujan
sayap-sayap patah berhamburan
tak bisa kemana-mana walau hanya sekitaran

berkaus kutang dan bercelana pendek
bersandal jepit bersepatu buaya
mengisap rokok sisa berasap doa

mari lihatlah

bayi-bayi telanjang yang tidur dalam buaian
rebah dalam dekapan sang bunda
menangis minta susu
yang tak bisa diberikan sang ibu

kerikil-kerikil tajam menghantam pondok daun berpintu satu
tempat tikar dan dipan berjajar seperti sarden
kemarau..
ini kemarau dalam hidup
atau hidup dalam kemarau

hujan pun turun menghalau debu
sekalian menenggelamkan kerikil ke dalam kubangan
menggantang asap yang tidak dikepulkan api

pondok daun menutup pintu
sendok garpu beradu dalam bisu
bayi-bayi minum susu

pernahkah bertanya? 
kapankah ini bisa dimulai?

Manusia dan Sayap-Sayap yang Patah
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 140317

Advertisements

Inspirasi Puisi yang Berbeda Setiap Waktu

Menulis puisi buat saya tidak gampang. Kadang saya bisa menyusun puisi dengan kata-kata yang mampir dalam pikiran saya, tapi lebih sering saya membutuhkan banyak inspirasi untuk membuat tiap baitnya. Tidak sekedar mencampur adukkan kata-kata yang kedengarannya puitis.

Biasanya, inspirasi saya datang dari film yang sedang saya tonton, buku yang saya baca, atau lagu yang saat ini menjadi favorit saya, yang bisa saya putar berkali-kali tanpa merasa bosan.

Kali ini, yang menjadi inspirasi saya adalah sebuah lagu ballad era 1960-an yang merefleksikan sebuah potret kemanusiaan, sebuah situasi yang dialami orang-orang Yahudi selama masa Holocaust. Judulnya adalah Donna Donna / Dana Dana / Dos Kelbl / The Calf / Anak Sapi. Lagu ini awalnya merupakan sebuah lagu teater Yiddish. 

Saya memang bukan pecinta lagu ballad. Tapi begitu melihat scene sebuah film dokumenter dimana lagu ini dinyanyikan dengan iringan petikan gitar, saya jatuh cinta. 

Diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan dikomposeri oleh Sholom Secunda (1894-1974), lagu yang awalnya berbahasa Yiddish ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz pada pertengahan tahun 1950-an. Pada tahun 1960, lagu ini dinyanyikan oleh Joan Baez, dan pada tahun 1965, dinyanyikan kembali oleh Donovan. Tahun 2005, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia, Sita RSD sebagai pengisi soundtrack film dokumenter Gie. Favorit saya adalah yang versi Sita. ❤

Irama ballad yang khas dan sederhana dengan lirik perumpamaan seekor anak sapi yang akan disembelih dan seekor walet yang terbang bebas ini sungguh membuat saya trenyuh dan terbayang korban-korban Nazi yang dibunuh dalam kamar gas waktu itu. Inilah yang menjadi dasar puisi-puisi saya saat ini, yang lebih menyoroti potret kemanusiaan. Potret antara si kaya dan si miskin, sang penguasa dan si tertindas. 

Buat saya, lagu ini adalah lagu sepanjang masa. Relevan untuk masa itu, relevan juga hingga kini. Di setiap belahan dunia, saya rasa lagu ini juga memiliki relevansi 🙂

Saya kagum sekali dengan penulis lagu ini, yang mampu merefleksikan dengan jelas kondisi sosial masa itu dengan kiasan-kiasan yang tepat. Saya hampir yakin bahwa setiap orang yang mendengarkan lagu ini juga akan tersentuh dan terngiang-ngiang situasi kelam itu. 

Sepenggal Kata Minggu Pagi

di sisi cangkir kopi, aku duduk bersama remah roti yang mulai basi, menatap orang-orang tua yang mengantri untuk mendapat sesuap nasi

lagu balada mengalun liris, seakan memperjelas nasib mereka
tongkat-tongkat kayu saling beradu dalam barisan, juga topi-topi kumal yang sudah lusuh dan bersulam
bersisian wanita-wanita berpegangan tangan sambil berdoa
semoga Tuhan tidak libur hari ini

bayi-bayi menangis sementara anak-anak kecil mengais-ngais
untuk sekedar menemukan sedikit apa saja yang terbagi

di sisian lain ada para orang yang berdasi
memesan kopi hari ini
espresso, cappuccino, dan macchiato
sementara di udara lagu pop bergaung seakan tak peduli

aku menyesap kopiku perlahan dan mendesah dalam hati
beginikah balada negeri ini?
terisap ampas-ampas kopi yang pahit
hanya menyisakan sengit dan pailit

sesenggukan tangis dan air mata bergantian turun menyungai di pipi
hatiku berdesir tapi hanya bisa melihat dari yang tak tampak mata

karung-karung kain dibagikan, harganya hampir sama dengan segelas kecil kopi Eropa
aku jadi tahu rasanya neraka di bumi, yang bersisian dengan surga

Secangkir Kopi di Surga
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

> > >

gerimis melukis langit
aroma tanah mengusik sepiku
menabur narwastu

tetiba aku rindu..
pada semua yang melekat padamu

kaca jendela bagaikan bersalju
tertutup remang rintik hujan
tak ada kulihat apa-apa
sekalipun itu bayang-bayang

aku seperti orang kesasar yang tak tahu kemana harus pergi,
ke sisian mana aku harus berlalu?
ke tepian mana aku harus berlabuh?

menatap di kejauhan seperti menatap dekat matamu
yang sebulat mata kaca
dan sebening embun pagi

mendadak aku ingin diam saja
membiarkan detik bersua dengan pelangi di ujung senja

jendelaku terembes air tawar
memasuki kisi-kisi persis seperti bayanganmu pada benakku
begitu ragu begitu sendu

terbit di angan
kau berdua dengannya di sana
seperti aku berdua dengan bayanganku

Hujan Hari Ini
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317


[Review] – Buku : Tidak Ada New York Hari Ini

puisi M. Aan Mansyur | foto Mo Riza
tebal 180 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku puisi pertama yang saya punya, gara-gara puisinya Rangga di sekuel film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah hampir setahun buku ini di-launching, bertepatan dengan launching filmnya, tapi saya baru tahu dua bulan lalu. Itu pun gara-gara nonton filmnya lebih dulu di komputer *saya ga nonton di bioskop karena saya kudet agak lama*. Padahal, review-nya sendiri sudah banyak banget di internet. Belum lagi dulu jadi trending topic di twitter. Telat banget ya saya… Hahaha.. Tapi mumpung belum terlalu terlambat, saya akan coba mengulas buku ini. 

Film AADC memang berkaitan sekali dengan puisi-puisi romantis karya Rangga. Meskipun Rangga itu nyebelin, tapi kalau sudah nulis puisi… dalemm banget rasanya. 

Bagi saya, puisi itu seni. Saya bilang seni, karena ga setiap orang bisa lho bikin puisi yang bisa bikin orang yang baca kebat-kebit. Puisi itu kata-kata yang interpretasinya harus dilakukan dengan hati. Buat saya, puisi itu ungkapan hati yang kadang njelimet dipahami. Biasanya orang yang suka puisi itu orangnya juga romantis.. Hehehe *abaikan*

Balik lagi ke bukunya. 

Dalam buku ini ada 31 buah puisi (kalau ga salah hitung) yang diciptakan oleh Aan Mansyur. Semuanya merupakan ungkapan hati Rangga – kegalauan, kesedihan, kesendirian, dan dilemanya. Saya kira ini kumpulan puisinya selama seratus delapan purnama semenjak putus dari Cinta.

Beberapa di antaranya dinarasikan oleh Rangga di film. Masih ingat kan, scene-scene film dimana puisi-puisinya muncul?

Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, 

Kau yang dingin di kenang

(Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. 
(Pukul 4 Pagi, hal. 12)

Aku seperti menyalami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu. 
(Pagi di Central Park, hal. 22)

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 
(Batas, hal. 46)

Dalamm banget kan artinya? 

Sebagai pecinta dan penikmat puisi, buku ini menarik untuk dibaca. Pilihan diksinya sederhana, kata-kata yang banyak kita dengar setiap hari. Tapi, rangkaiannya sungguh mengagumkan. Maknanya begitu apa ya? Saya bingung memilih istilah yang cukup tepat untuk puisi-puisi ini..

Buku ini dilengkapi dengan New York street photography karya Mo Riza. Menggambarkan suasana yang dihadapi Rangga setiap hari, foto-foto ini terkonsep dengan apik. Saya membayangkan foto-foto ini adalah karya Rangga, kan di sekuelnya, Rangga punya hobi fotografi..

Saya belum membaca buku-buku karya Aan Mansyur lainnya, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila, dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, tapi setelah buku puisi ini, sepertinya perburuan saya akan berlanjut. Hehehe.. 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa