Reading makes You know the World ; Writing makes the World knows You

That’s right!

Saya lupa pertama kali baca ungkapan ini dimana, tapi bunyi ungkapan ini terus terngiang di pikiran saya karena sangat menarik. Kata-katanya simpel saja, tapi artinya dalam. Membaca membuatmu mengenal Dunia ; Menulis membuat Dunia mengenalmu.

• Membaca •
Ungkapan klasik “Buku adalah Jendela Dunia” memang benar adanya. Dengan membaca buku, kita bisa travelling ke seluruh belahan dunia. Kok bisa? Dulu waktu kecil, saya juga sering menanyakan hal yang sama. Kok bisa? Itu kan mustahil! Masa keliling dunia dengan buku?

Seiring waktu, saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Sederhana sebenarnya. Sesederhana menyeduh kopi susu setiap pagi, untuk dinikmati bersama dengan sekeping biskuit atau sepotong roti.. ☕🍮🍪

Menurut saya, penjelasannya begini : Setiap buku pasti punya latar belakang tempat, situasi kondisi, budaya, dan pengetahuan-pengetahuan yang tersirat – dalam plot cerita. Saat kita membaca buku, berarti kita sekaligus menyelami ‘seluruh dunia’ dalam buku itu. Intinya, pengetahuan kita akan bertambah tanpa kita perlu kemana-mana. Kita bisa mengetahui setiap pagelaran ilmu yang ditawarkan sang pengarang. Terus apanya yang travelling? Jawabannya adalah : Pengetahuan kita lah yang travelling, bukan fisik kita.

Mungkin orang yang kritis akan menyahut begini : Kalau dari teenlit atau chicklit atau novel roman – pengetahuan apa yang bisa dipetik dari sana?

Banyak.

Penjelasan panjang lebar saya mungkin terdengar lebih masuk akal kalau konteks bukunya adalah buku klasik yang notabene latar belakangnya selalu jelas. Misalnya Oliver Twist karangan Charles Dickens, yang latar belakangnya adalah masa Revolusi di Inggris, menguak waktu dan nasib rakyat yang miskin dan tertindas ; Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang menyoroti tentang politik penjualan budak kulit hitam di Amerika ; ataupun Emma karya Jane Austen yang meskipun hampir seluruhnya dibalut romansa tapi mampu membawa kita ‘berpetualang’ ke dimensi waktu Emma hidup.

Saya pribadi berpendapat bahwa setiap buku memiliki pengetahuannya sendiri, baik tersurat atau pun tersirat. Teenlit atau chicklit dalam opini saya tergolong dalam buku berisi ‘ringan’ yang menawarkan cerita tentang kehidupan sehari-hari, terutama perihal percintaan. Meskipun isinya ‘ringan’ bukan berarti tidak ada pengetahuan di dalamnya. Coba saja membacanya.. Banyak juga kok yang bisa dipetik dari sana. 🙂

• Menulis •
Menulis berarti membagi apa yang kamu pikirkan, inginkan, dan rasakan. Seperti saya yang menulis di blog ini, hanya ingin menyuarakan pendapat dan apa yang saya pikirkan sekarang. Bukan untuk maksud agar dikenal orang. Saya lebih memilih menjadi orang merdeka yang bisa bebas menyuarakan aspirasi saya walau hanya lewat tulisan-tulisan di buku harian ini.

Lewat menulis juga kan, para pengarang yang saya sebutkan di atas bisa dikenal oleh seluruh dunia? Bahkan karya-karya mereka abadi, tak lekang dimakan waktu. Kalau mereka tidak menulis, tidak akan ada bahan bacaan buat Anda dan saya hari ini. Mengutip ucapan Pramoedya Ananta Toer : Kalau kamu tidak menulis, kamu akan hilang dari sejarah.

Jadi, selamat menulis! Bereksplorasi lah dengan aksara.. karena aksara yang tertata itu mendamaikan jiwa 🍁


Advertisements

Inspirasi Puisi yang Berbeda Setiap Waktu

Menulis puisi buat saya tidak gampang. Kadang saya bisa menyusun puisi dengan kata-kata yang mampir dalam pikiran saya, tapi lebih sering saya membutuhkan banyak inspirasi untuk membuat tiap baitnya. Tidak sekedar mencampur adukkan kata-kata yang kedengarannya puitis.

Biasanya, inspirasi saya datang dari film yang sedang saya tonton, buku yang saya baca, atau lagu yang saat ini menjadi favorit saya, yang bisa saya putar berkali-kali tanpa merasa bosan.

Kali ini, yang menjadi inspirasi saya adalah sebuah lagu ballad era 1960-an yang merefleksikan sebuah potret kemanusiaan, sebuah situasi yang dialami orang-orang Yahudi selama masa Holocaust. Judulnya adalah Donna Donna / Dana Dana / Dos Kelbl / The Calf / Anak Sapi. Lagu ini awalnya merupakan sebuah lagu teater Yiddish. 

Saya memang bukan pecinta lagu ballad. Tapi begitu melihat scene sebuah film dokumenter dimana lagu ini dinyanyikan dengan iringan petikan gitar, saya jatuh cinta. 

Diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan dikomposeri oleh Sholom Secunda (1894-1974), lagu yang awalnya berbahasa Yiddish ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz pada pertengahan tahun 1950-an. Pada tahun 1960, lagu ini dinyanyikan oleh Joan Baez, dan pada tahun 1965, dinyanyikan kembali oleh Donovan. Tahun 2005, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia, Sita RSD sebagai pengisi soundtrack film dokumenter Gie. Favorit saya adalah yang versi Sita. ❤

Irama ballad yang khas dan sederhana dengan lirik perumpamaan seekor anak sapi yang akan disembelih dan seekor walet yang terbang bebas ini sungguh membuat saya trenyuh dan terbayang korban-korban Nazi yang dibunuh dalam kamar gas waktu itu. Inilah yang menjadi dasar puisi-puisi saya saat ini, yang lebih menyoroti potret kemanusiaan. Potret antara si kaya dan si miskin, sang penguasa dan si tertindas. 

Buat saya, lagu ini adalah lagu sepanjang masa. Relevan untuk masa itu, relevan juga hingga kini. Di setiap belahan dunia, saya rasa lagu ini juga memiliki relevansi 🙂

Saya kagum sekali dengan penulis lagu ini, yang mampu merefleksikan dengan jelas kondisi sosial masa itu dengan kiasan-kiasan yang tepat. Saya hampir yakin bahwa setiap orang yang mendengarkan lagu ini juga akan tersentuh dan terngiang-ngiang situasi kelam itu. 

Sejumput Cerita di Menjelang Petang

Menulis adalah hal yang tak asing bagi siapapun. Anak-anak belajar menulis sejak tangan mereka bisa menggenggam pena. Seperti lukisan, tulisan adalah sebuah pengekspresian diri yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk lain. Menulis itu menyenangkan – setidaknya bagi saya – karena selagi menulis, saya murni menjadi diri saya sendiri. 

Menulis itu tidak gampang. Apalagi jika menulis sebuah sastra yang setiap katanya seakan nyata. Banyak orang mengira bahwa menulis itu mudah, tapi sebenarnya mereka tidak paham sepenuhnya apa yang mereka tulis. Menjabarkan aksara memang mudah kalau tanpa arti. Setidaknya sewaktu sekolah, sering kan menulis kalimat-kalimat yang tak bernyawa? 

Menulis adalah pelarian saya ketika saya tidak bisa menemukan seseorang yang saya ajak berbagi. Dulu, kertas dan pena menjadi teman setia saya di segala suasana. Suka dan duka atau murung dan riang. Saya bisa mengatakan apa pun pada kertas. Tapi tidak pada manusia. Kertas tidak akan menasihati saya, memaki, atau menguliahi saya. Dia akan diam saja. Karena itulah, kertas selalu menjadi wadah yang lebih tahu siapa saya.

Beberapa buku harian saya menjadi saksi perjalanan hidup saya dari masa ke masa. Sayang sudah saya bakar semua, karena waktu saya baca lagi, isinya terlalu menggelikan. Padahal, sebenarnya saya tak perlu malu dengan semua itu. Setiap kata di dalamnya akan bertambah matang seiring bertambah dewasanya usia, apapun perasaan waktu itu.

Kalau isi buku harian saya mengagumkan, mungkin buku itu bisa menjadi saingan Catatan Seorang Demonstran. 

Waktu sekolah, tulisan-tulisan saya lebih banyak dalam bentuk puisi. Sekedar untuk saya simpan sendiri atau dipasang di majalah dinding. Puisi adalah rangkaian kata yang benar-benar menggambarkan perasaan yang terdalam. Sepintas menurut saya, kadang saya merasa diri sendiri ini adalah pujangga. Hahaha… Silakan tertawa. 

Sampai saat ini, saya merasa belum terlalu berbakat menulis puisi. Tapi, kadang-kadang nekat ikut lomba hanya supaya eksis. Kalau menang, syukur. Tidak menang pun, syukur. Setidaknya ada wadah yang bisa menampung tulisan saya. 

Waktu sekolah – saya masih kelas 1 SMA – guru bahasa saya mendaftarkan diri saya sebagai peserta lomba puisi sedunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Saya hanya iya-iya saja, bisa berbangga hati sedikit karena saya yang terpilih. Mungkin guru saya melihat saya punya bakat tampang penyair.. Lomba itu tidak saya menangkan, tapi guru saya bilang kalau saya masuk dalam final 33 besar. Saya percaya saja. Kepengen ngecek sendiri daftarnya, tapi gak tahu dimana. 

Naik ke kelas 2, guru saya menyuruh saya dan teman saya mengumpulkan puisi untuk diikutkan lomba puisi tingkat provinsi. Beliau memberikan waktu dua hari untuk itu. Temanya tentang narkoba. Waktu itu bertepatan dengan masa ujian sekolah, jadi saya lupa lupa ingat bikin puisi itu. 

Akhirnya kejadian, saya benaran lupa! Pagi-pagi baru ingat dan akhirnya buka-buka kamus sambil cari kata-kata yang kelihatannya puitis. Hahaha.. Saya kasih puisi itu ke guru saya, lalu dia malah bilang kalau teman saya itu malah tidak mengumpulkan.

Di hari Senin berikutnya, waktu upacara, nama saya tiba-tiba ikut disebut waktu Kepala Sekolah memberikan selamat pada teman saya (yang gak ngumpulkan puisi). Ternyata oh ternyata.. Puisi saya menang lomba tingkat provinsi tahun 2005. Saya yang menciptakan, tapi teman saya yang menarasikan. Ya salam.. Bangga sih, tapi agak kecewa juga waktu itu, kenapa guru saya diam-diam saja. 

Tapi setidaknya, saya jadi punya prestasi lah di sekolah walaupun hanya sebagai pujangga amatir. 

mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya
sama artinya dengan melihat senja di pelupuk mata
tenggelam, lalu kelam
petang dan tak ada suara

burung2 bayan melintasi dangau
membelah sepi menjadi suara

sesunyi inikah cinta?
apa yang tersedia tak tentu bisa
hanya untuk dilamunkan dan dikenang

aku merasa memintal tanpa benang
seperti menetak air dalam perigi

seribu kali aku menangis
seratus kali aku mati
sepuluh kali aku hidup lagi

bila lentera tercipta dari arang
tak bisakah arang menyalakan lentera?

aku adalah kamu
dan selalu seperti itu
kamulah arang bagi lenteraku
dan aku adalah lentera dari arangmu



Hanya sejumput cerita, tidak lebih ☺