Inspirasi Puisi yang Berbeda Setiap Waktu

Menulis puisi buat saya tidak gampang. Kadang saya bisa menyusun puisi dengan kata-kata yang mampir dalam pikiran saya, tapi lebih sering saya membutuhkan banyak inspirasi untuk membuat tiap baitnya. Tidak sekedar mencampur adukkan kata-kata yang kedengarannya puitis.

Biasanya, inspirasi saya datang dari film yang sedang saya tonton, buku yang saya baca, atau lagu yang saat ini menjadi favorit saya, yang bisa saya putar berkali-kali tanpa merasa bosan.

Kali ini, yang menjadi inspirasi saya adalah sebuah lagu ballad era 1960-an yang merefleksikan sebuah potret kemanusiaan, sebuah situasi yang dialami orang-orang Yahudi selama masa Holocaust. Judulnya adalah Donna Donna / Dana Dana / Dos Kelbl / The Calf / Anak Sapi. Lagu ini awalnya merupakan sebuah lagu teater Yiddish. 

Saya memang bukan pecinta lagu ballad. Tapi begitu melihat scene sebuah film dokumenter dimana lagu ini dinyanyikan dengan iringan petikan gitar, saya jatuh cinta. 

Diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan dikomposeri oleh Sholom Secunda (1894-1974), lagu yang awalnya berbahasa Yiddish ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz pada pertengahan tahun 1950-an. Pada tahun 1960, lagu ini dinyanyikan oleh Joan Baez, dan pada tahun 1965, dinyanyikan kembali oleh Donovan. Tahun 2005, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia, Sita RSD sebagai pengisi soundtrack film dokumenter Gie. Favorit saya adalah yang versi Sita. ❤

Irama ballad yang khas dan sederhana dengan lirik perumpamaan seekor anak sapi yang akan disembelih dan seekor walet yang terbang bebas ini sungguh membuat saya trenyuh dan terbayang korban-korban Nazi yang dibunuh dalam kamar gas waktu itu. Inilah yang menjadi dasar puisi-puisi saya saat ini, yang lebih menyoroti potret kemanusiaan. Potret antara si kaya dan si miskin, sang penguasa dan si tertindas. 

Buat saya, lagu ini adalah lagu sepanjang masa. Relevan untuk masa itu, relevan juga hingga kini. Di setiap belahan dunia, saya rasa lagu ini juga memiliki relevansi 🙂

Saya kagum sekali dengan penulis lagu ini, yang mampu merefleksikan dengan jelas kondisi sosial masa itu dengan kiasan-kiasan yang tepat. Saya hampir yakin bahwa setiap orang yang mendengarkan lagu ini juga akan tersentuh dan terngiang-ngiang situasi kelam itu. 

Advertisements

[Review] – Film : Gie (2005)

Entah kenapa saya selalu merasa ketinggalan zaman kalau menyangkut film. Begitu juga dengan film ini.. Sudah turun layar selama 12 tahun, tapi saya baru mulai nonton (!).

Gie adalah sebuah film dokumenter tahun 2005, yang mengangkat kisah tentang kehidupan sosok Soe Hok Gie – seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia – yang begitu mendambakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam ke atas akan politik dan demokrasi seluruhnya ditulis dalam buku hariannya, yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Beberapa dituliskan dalam bentuk puisi. 

Saya mimpi tentang sebuah dunia, 
Dimana ulama – buruh dan pemuda, 
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan, 
Stop semua pembunuhan atas nama apapun. 
Dan para politisi di PBB, 
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, 
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, 
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, 
Agama apa pun,  ras apa pun,  dan bangsa apa pun, 
Dan melupakan perang dan kebencian, 
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 
Tuhan –  Saya mimpi tentang dunia tadi, 
Yang tak akan pernah datang. 

Selasa, 29 Oktober 1968
Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore (pada usia 14 tahun). Karena itulah, pemikiran-pemikirannya semakin terbuka luas. Gie dikenal teguh mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Bahkan di sekolah, dia berani melawan guru yang mengatakan sesuatu yang salah. Kata-katanya yang terkenal adalah : Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Gie aktif menyuarakan pendapatnya dan kritik-kritiknya melalui media massa dan diskusi-diskusi dalam dinding kampus. Banyak pihak menanyakan di sayap mana dia bergabung (golongan komunis atau bukan), yang tidak dijawabnya lugas melainkan dengan tulisan-tulisannya. Meskipun banyak yang menentangnya, tak sedikit pula yang mendukung pemikirannya. Sosok yang sama sekali tak takut menjadi berbeda. Saya tidak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin. 

Tan Tjin Han (karakter fiktif teman Gie dalam film), Herman Lantang (sahabat Gie di kampus), bahkan ibunya sendiri pun pernah menanyakan untuk apa Gie susah payah melawan situasi ini. Sudah tidak mendapat uang, malah memperbanyak musuh. Tapi, Gie hanya tersenyum menanggapi mereka. Ah, Ibu tidak mengerti..  

Gie adalah sosok yang fenomenal (menurut saya pribadi). Sesibuk-sibuknya dia mengkritisi pemerintah, ternyata dia juga masih punya kehidupan pribadi yang menarik untuk diulik. Mungkin kalau dibuat slogan, slogannya akan berbunyi : Buku, Pesta, dan Cinta. 

Dalam filmnya, Gie diceritakan suka menonton film yang diputar di auditorium, lalu mendiskusikannya. Dia juga mendirikan organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) karena kecintaannya naik gunung. 

Menurut saya,  Gie adalah sosok yang dingin tapi romantis. Meskipun dia terlihat sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Ira, puisi-puisinya menyiratkan bahwa dia mencintai teman seperjuangannya itu. Dia mencintai dengan caranya sendiri. 

#tiba-tiba saya jadi teringat sosok Rangga di film legendaris Ada Apa Dengan Cinta. Karakter yang dingin dan misterius tapi romantis hanya pada orang yang dia sayangi. Kebetulan juga yang main sama-sama Nicholas Saputra.. 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi, aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Selasa,  11 November 1969
Soe Hok Gie



Menurut saya, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kejadian yang terjadi di masa itu. Tentang demonstrasi mahasiswa UI, tentang semrawutnya kondisi pemerintahan saat itu, juga tentang keadaan rakyat yang mengenaskan. Saya mendadak teringat scene dimana Gie memberikan uang sakunya pada seorang pria yang sedang makan kulit mangga karena kelaparan. 

Gambaran itu semakin jelas dengan iringan lagu Donna Donna yang kebetulan merupakan lagu favorit Gie. Dalam film ini, Ira-lah yang menyanyikan tembang ini diiringi petikan gitarnya. Saat matanya tak sengaja menatap mata Gie, saya seperti bernarasi sendiri seolah jadi Ira. Gie, saya selalu bersamamu dan mendukungmu. Kadang saya pikir, lagu itu diciptakan untuk Gie bukannya untuk korban Nazi.

Di akhir film, dimana Gie dilukiskan sedang membayangkan melihat masa lalunya bersama Han, diselingi narasi puisinya, saya selalu meneteskan air mata. Saya juga tak tahu kenapa, tapi scene itu benar-benar seperti meluapkan perasaan terdalam saya. Seseorang yang bersedih mengingat bahwa dia telah ditinggalkan sahabatnya yang selalu mendukungnya. Han ditangkap karena dia mendukung golongan komunis. Seorang yang dalam kadang tak dihargai, tapi masih mampu untuk berjuang. 

Saya semakin kagum dengan sosok Gie mengingat dia adalah kaum minoritas, tapi dia begitu memperjuangkan kaum mayoritas. Semestinya, Indonesia membutuhkan kembali orang-orang seperti Gie.

Ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya tonton! 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa