throwback 🐾 – Agatha Christie’s

Crooked House a.k.a Buku Catatan Josephine (Indonesian edition) 



.
.
.
intermezzo
adalah buku Agatha Christie pertama yang saya baca di perpustakaan sekolah, dengan cover lawas berlatar belakang hitam dan gambar sepatu balet dan botol pil. Waktu itu tahun 2002. Perpustakaan sekolah saya masih bergaya kuno – dengan meja-meja dari kayu yang hampir menutupi setengah ruangan, pencahayaan agak remang-redup, bau kertas-kertas tua, dan tinta dari koleksi buku yang mulai menguning. Letaknya pun di lorong sudut sekolah yang jarang dilalui orang. Penjaganya seorang wanita setengah baya yang sederhana dan pendiam. Namanya Bu Sulis. 

Agaknya waktu itu, perpustakaan adalah tempat yang menjadi momok bagi sebagian orang. Setiap kali saya menjenguk tempat itu, bisa dihitung berapa orang yang datang ke sana. Beberapa orang dari yang berapa itu pun kebanyakan menjadikan perpustakaan sebagai basecamp untuk curhat atawa ngobrol dari hati ke hati. Kayaknya sampai sekarang pun, perpustakaan menjadi tempat yang enggan didatangi orang. Minat baca masyarakat mungkin bertambah dari tahun ke tahun, tapi nggak sampai menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit. 

Sejujurnya, karena Agatha Christie-lah saya jadi suka buku genre misteri detektif. Sejak pertama kali saya melalap habis Buku Catatan Josephine, saya ketagihan membaca seluruh seri novel detektifnya yang berjumlah 80 seri. Setiap hari saya ngubek di perpustakaan, membaca di tempat atau meminjam untuk dibawa pulang. Ini berlaku untuk novel-novel lainnya juga, semacam Mira W., Marga T., V. Lestari, dll. Pokoknya saya terkena sindrom kutu buku waktu SMP.

Sampai saya lulus sekolah, kayaknya sekitar 30-an novel Agatha Christie yang sudah saya baca. Itu juga merupakan koleksi di perpustakaan. Agak kecewa juga karena kurang lengkap serinya.. Sempat terpikir untuk membeli sendiri, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk mengoleksi buku. 

Menginjak bangku sekolah menengah, kegilaan saya ke perpustakaan kambuh lagi. Setiap hari ke perpustakaan buat pinjam buku. Sekali pinjam bisa sampai lima buku, dan dihabiskan juga hari itu. Karena mama saya seorang pecinta buku juga, jadi beliau ikut kena manisnya membaca tanpa beli. 😁

Menurut saya pribadi, Agatha Christie itu jenius!  Dia bisa membuat cerita yang evergreen – tak lekang oleh waktu. Padahal sebagian besar novelnya ditulis pada periode sebelum Perang Dunia I lho. Hampir semua novelnya relevansi sampai dengan masa kini. Jalan cerita, metode, racun-racun yang digunakan, pelaku, alibi. Satu kata buatnya : Amazing 😍

Agatha yang notabene juga seorang mantan apoteker dan perawat pada saat Perang Dunia ini, banyak memasukkan unsur obat-obatan yang digunakannya dalam bekerja. Itulah sebabnya kebanyakan pembunuhan dalam novelnya disebabkan oleh racun. Selain pekerjaannya, pekerjaan sang suami juga berkontribusi dalam penciptaan karakter dan situasi, sehingga setiap cerita tidak monoton. 

Suaminya yang pertama adalah seorang pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I, sedangkan suaminya yang kedua adalah seorang arkeolog yang gemar meneliti benda kuno dan artefak. Ketika Agatha ikut penelitian suaminya ke Mesir, saat itu jugalah ide-idenya tentang cerita bernuansa Mesir muncul, antara lain Pembunuhan di Sungai Nil dan Pembunuhan di Mesopotamia.

Satu hal lagi yang saya suka dari novel Agatha Christie selain the story plot, yakni The Detective (!).

Karakter detektif pertama ciptaan Agatha yang nyentrik, unik, gila kerapian & kebersihan, dan super-terstruktur : Mr. Hercule Poirot – pensiunan polisi asal Belgia yang beralih profesi menjadi detektif swasta di London. Terkenal dengan kumis melintangnya yang khas, sepatu tersemir mengkilap, sel-sel kelabunya yang belum aus dan tak pernah lupa dibanggakannya, dan metode-metodenya yang rinci dan akurat dengan teori psikologinya. Kadangkala ditemani sahabatnya yang lugu dan baik hati, Mr. Arthur Hastings. Pertama kali muncul dalam cerita Pembunuhan di Styles atau The Mysterious Affair at Styles.

Karakter detektif kedua ciptaan Agatha sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Digambarkan sebagai perempuan tua yang hidup di akhir zaman Victoria, suka merajut dan berkebun : Miss Jane Marple – perawan tua yang lemah tapi manis, dengan mata biru yang lembut namun tajam, mengenal sifat-sifat manusia dengan sangat baik melalui kehidupannya sehari-hari di desa St. Mary Mead. Hidup seorang diri dengan tunjangan dari keponakannya yang penulis, Raymond West dan istrinya, Joan yang seorang pelukis. Pertama kali ditampilkan dalam cerita Pembunuhan di Wisma Pendeta atau Murder at the Vicarage.

Karakter tambahan lain ciptaan Agatha adalah Mrs. Ariadne Oliver – penulis cerita detektif yang hobi makan apel, gampang panik, berbadan gemuk, dan rambut yang penataannya selalu berbeda setiap saat. Dia adalah sahabat Poirot.

Adanya karakter-karakter itulah yang berperan membuat plot cerita menjadi serius atau mengalir tenang. Misalnya, cerita dengan detektif Poirot akan terasa lebih serius dan cenderung tertata. Namun, cerita dengan detektif Miss Marple terasa lebih tenang.

Saya sendiri cenderung lebih suka bila Miss Marple yang jadi detektifnya. Hahaha.. Sayangnya hanya dalam 20 judul Miss Marple hadir. Sisanya oleh Poirot atau tokoh cerita. 

Judul favorit saya adalah : Lalu Semuanya Lenyap / 10 Anak Negro atau And Then They Were None / 10 Little Niggers dan of course Buku Catatan Josephine.

Sampai sekarang, Agatha Christie tetap menjadi penulis favorit pertama saya ❤

March 2017,
Revita L. Kusnawa

Sepenggal Kata Minggu Pagi

di sisi cangkir kopi, aku duduk bersama remah roti yang mulai basi, menatap orang-orang tua yang mengantri untuk mendapat sesuap nasi

lagu balada mengalun liris, seakan memperjelas nasib mereka
tongkat-tongkat kayu saling beradu dalam barisan, juga topi-topi kumal yang sudah lusuh dan bersulam
bersisian wanita-wanita berpegangan tangan sambil berdoa
semoga Tuhan tidak libur hari ini

bayi-bayi menangis sementara anak-anak kecil mengais-ngais
untuk sekedar menemukan sedikit apa saja yang terbagi

di sisian lain ada para orang yang berdasi
memesan kopi hari ini
espresso, cappuccino, dan macchiato
sementara di udara lagu pop bergaung seakan tak peduli

aku menyesap kopiku perlahan dan mendesah dalam hati
beginikah balada negeri ini?
terisap ampas-ampas kopi yang pahit
hanya menyisakan sengit dan pailit

sesenggukan tangis dan air mata bergantian turun menyungai di pipi
hatiku berdesir tapi hanya bisa melihat dari yang tak tampak mata

karung-karung kain dibagikan, harganya hampir sama dengan segelas kecil kopi Eropa
aku jadi tahu rasanya neraka di bumi, yang bersisian dengan surga

Secangkir Kopi di Surga
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

> > >

gerimis melukis langit
aroma tanah mengusik sepiku
menabur narwastu

tetiba aku rindu..
pada semua yang melekat padamu

kaca jendela bagaikan bersalju
tertutup remang rintik hujan
tak ada kulihat apa-apa
sekalipun itu bayang-bayang

aku seperti orang kesasar yang tak tahu kemana harus pergi,
ke sisian mana aku harus berlalu?
ke tepian mana aku harus berlabuh?

menatap di kejauhan seperti menatap dekat matamu
yang sebulat mata kaca
dan sebening embun pagi

mendadak aku ingin diam saja
membiarkan detik bersua dengan pelangi di ujung senja

jendelaku terembes air tawar
memasuki kisi-kisi persis seperti bayanganmu pada benakku
begitu ragu begitu sendu

terbit di angan
kau berdua dengannya di sana
seperti aku berdua dengan bayanganku

Hujan Hari Ini
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317


Hidup untuk Menulis, lalu Menulis untuk Hidup

Cita-cita terpendam saya adalah jadi penulis. Menurut saya, jadi penulis itu enak. Hidup untuk Menulis, lalu Menulis untuk Hidup. Itu pemikiran saya waktu masih bau kencur. Kayaknya enak banget, pegang pulpen aja udah dapet duit… 

Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya dulu itu saya naif banget. Karena kebanyakan baca cerpen-cerpen di Bobo, saya pikir menulis itu mudah. Padahal menulis itu (memang) mudah… yang sulit adalah mencari dan menuangkan idenya. Benar kan? 

Kadang-kadang abis baca cerpen di Bobo, saya iseng nulis-nulis cerpen juga. Semangat banget waktu itu saya mencari nama-nama tokoh buat cerita saya. Nama yang aneh-aneh dan kadang malah tak lazim. 😶

Setelah cerita karangan saya selesai, biasanya saya tunjukkin ke mama saya. Beliau saya anggap sebagai editor dan juga pemberi saran. Beberapa menit setelah beliau baca-baca sekilas, langsung kritiknya keluar semua. Kritik lho ya, bukan saran. 

Katanya cerpen saya aneh, ending-nya ga masuk akal, terus jalan ceritanya lompat-lompat ga jelas. Dari A langsung ke C, bukannya lewat B dulu. Waktu itu saya masih SD, jadi ya bisa ditebaklah gimana akhirnya. Saya mutung, malas buat cerpen lagi karena ujung-ujungnya selalu ditolak. Ngerti saya mutung, mama saya lalu menjelaskan kenapa ga masuk akalnya, dll.

Saya inget dulu itu saya seringnya bikin cerpen tentang rumah tangga. Hahaha… Makanya mama saya selalu kasih komentar kalau cerpen saya ga masuk akal. Lha saya sendiri belum mengalami yang namanya membangun rumah tangga kok bikin cerita tentang itu. Cerpen itu kadang bisa dibuat kalau kita merasakan sendiri. Tapi tak selalu. Itu nasihat mama saya.

Lulus SD saya makin jarang buat cerpen, tapi makin sering baca buku. Buku apa saja saya baca. Waktu mulai langganan majalah dimana Dian Sastro pernah jadi pemenangnya, niat saya bikin cerpen muncul lagi. Tapi niat saya nulis bersamaan dengan niat saya baca. Jadi saya pilih baca aja lah. Alasan saya selalu sama. Idenya belum muncul. Akhirnya selama SMP saya vakum nulis-nulis apapun. Paling cuma buku harian. 

Masuk SMA, saya kepengen nulis lagi. Mau nulis cerpen, tapi masih kapok kena pengalaman zaman SD. Akhirnya saya memilih menulis puisi. Karena masih amatiran, jadi pilihan katanya amburadul. Puisinya saya dasarkan dari pengalaman saya sehari-hari di sekolah. Kadang, kalau puisi saya ga sengaja kebaca teman, ujung-ujungnya pasti nyindir woo.. ada pujangga baru lahir. Nyebelin memang… 

Masa SMA adalah masa produktif saya menulis puisi. Lagi galau, nulis. Lagi sedih, nulis. Lagi senang, nulis. Bahkan kadang saya juga nulis kalau saya lagi bingung. 

Setelah lulus SMA, saya vakum nulis lagi. Sampai tahun ini kira-kira sudah 10 tahun (!). Soalnya di kampus tempat saya kuliah ga ada yang suka sih.. Jadinya kagok kan kalau ga ada temannya. Waktu itu juga saya lagi terbawa arus banget. Nongkrong, jalan ke mall, nonton bioskop. Pokoknya itu terus yang dilakuin. Pernah ikut organisasi juga sebentar, tapi entah kenapa waktu itu saya keluar. Padahal itu organisasi pers mahasiswa, yang seharusnya bisa menjadi wadah aspirasi saya. 

Tahun ini saya kepengen rajin menulis lagi.. Apa saja. Bahkan saya ingin menjadikan proyek saya sekarang jadi kenyataan. Cerpen & Novel. 

Agaknya cita-cita masa kecil saya pulang kandang. Semangat saya menulis sudah kembali, sudah ga melempem lagi. Semoga proyek saya bisa rampung tahun ini dan semoga ada yang berminat menerbitkannya. Berharap boleh kan. 

Pukul 5 petang. Saya butuh secangkir kopi lagi. 

[Review] – Buku : Tidak Ada New York Hari Ini

puisi M. Aan Mansyur | foto Mo Riza
tebal 180 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku puisi pertama yang saya punya, gara-gara puisinya Rangga di sekuel film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah hampir setahun buku ini di-launching, bertepatan dengan launching filmnya, tapi saya baru tahu dua bulan lalu. Itu pun gara-gara nonton filmnya lebih dulu di komputer *saya ga nonton di bioskop karena saya kudet agak lama*. Padahal, review-nya sendiri sudah banyak banget di internet. Belum lagi dulu jadi trending topic di twitter. Telat banget ya saya… Hahaha.. Tapi mumpung belum terlalu terlambat, saya akan coba mengulas buku ini. 

Film AADC memang berkaitan sekali dengan puisi-puisi romantis karya Rangga. Meskipun Rangga itu nyebelin, tapi kalau sudah nulis puisi… dalemm banget rasanya. 

Bagi saya, puisi itu seni. Saya bilang seni, karena ga setiap orang bisa lho bikin puisi yang bisa bikin orang yang baca kebat-kebit. Puisi itu kata-kata yang interpretasinya harus dilakukan dengan hati. Buat saya, puisi itu ungkapan hati yang kadang njelimet dipahami. Biasanya orang yang suka puisi itu orangnya juga romantis.. Hehehe *abaikan*

Balik lagi ke bukunya. 

Dalam buku ini ada 31 buah puisi (kalau ga salah hitung) yang diciptakan oleh Aan Mansyur. Semuanya merupakan ungkapan hati Rangga – kegalauan, kesedihan, kesendirian, dan dilemanya. Saya kira ini kumpulan puisinya selama seratus delapan purnama semenjak putus dari Cinta.

Beberapa di antaranya dinarasikan oleh Rangga di film. Masih ingat kan, scene-scene film dimana puisi-puisinya muncul?

Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, 

Kau yang dingin di kenang

(Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. 
(Pukul 4 Pagi, hal. 12)

Aku seperti menyalami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu. 
(Pagi di Central Park, hal. 22)

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 
(Batas, hal. 46)

Dalamm banget kan artinya? 

Sebagai pecinta dan penikmat puisi, buku ini menarik untuk dibaca. Pilihan diksinya sederhana, kata-kata yang banyak kita dengar setiap hari. Tapi, rangkaiannya sungguh mengagumkan. Maknanya begitu apa ya? Saya bingung memilih istilah yang cukup tepat untuk puisi-puisi ini..

Buku ini dilengkapi dengan New York street photography karya Mo Riza. Menggambarkan suasana yang dihadapi Rangga setiap hari, foto-foto ini terkonsep dengan apik. Saya membayangkan foto-foto ini adalah karya Rangga, kan di sekuelnya, Rangga punya hobi fotografi..

Saya belum membaca buku-buku karya Aan Mansyur lainnya, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila, dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, tapi setelah buku puisi ini, sepertinya perburuan saya akan berlanjut. Hehehe.. 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

Sejumput Cerita di Menjelang Petang

Menulis adalah hal yang tak asing bagi siapapun. Anak-anak belajar menulis sejak tangan mereka bisa menggenggam pena. Seperti lukisan, tulisan adalah sebuah pengekspresian diri yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk lain. Menulis itu menyenangkan – setidaknya bagi saya – karena selagi menulis, saya murni menjadi diri saya sendiri. 

Menulis itu tidak gampang. Apalagi jika menulis sebuah sastra yang setiap katanya seakan nyata. Banyak orang mengira bahwa menulis itu mudah, tapi sebenarnya mereka tidak paham sepenuhnya apa yang mereka tulis. Menjabarkan aksara memang mudah kalau tanpa arti. Setidaknya sewaktu sekolah, sering kan menulis kalimat-kalimat yang tak bernyawa? 

Menulis adalah pelarian saya ketika saya tidak bisa menemukan seseorang yang saya ajak berbagi. Dulu, kertas dan pena menjadi teman setia saya di segala suasana. Suka dan duka atau murung dan riang. Saya bisa mengatakan apa pun pada kertas. Tapi tidak pada manusia. Kertas tidak akan menasihati saya, memaki, atau menguliahi saya. Dia akan diam saja. Karena itulah, kertas selalu menjadi wadah yang lebih tahu siapa saya.

Beberapa buku harian saya menjadi saksi perjalanan hidup saya dari masa ke masa. Sayang sudah saya bakar semua, karena waktu saya baca lagi, isinya terlalu menggelikan. Padahal, sebenarnya saya tak perlu malu dengan semua itu. Setiap kata di dalamnya akan bertambah matang seiring bertambah dewasanya usia, apapun perasaan waktu itu.

Kalau isi buku harian saya mengagumkan, mungkin buku itu bisa menjadi saingan Catatan Seorang Demonstran. 

Waktu sekolah, tulisan-tulisan saya lebih banyak dalam bentuk puisi. Sekedar untuk saya simpan sendiri atau dipasang di majalah dinding. Puisi adalah rangkaian kata yang benar-benar menggambarkan perasaan yang terdalam. Sepintas menurut saya, kadang saya merasa diri sendiri ini adalah pujangga. Hahaha… Silakan tertawa. 

Sampai saat ini, saya merasa belum terlalu berbakat menulis puisi. Tapi, kadang-kadang nekat ikut lomba hanya supaya eksis. Kalau menang, syukur. Tidak menang pun, syukur. Setidaknya ada wadah yang bisa menampung tulisan saya. 

Waktu sekolah – saya masih kelas 1 SMA – guru bahasa saya mendaftarkan diri saya sebagai peserta lomba puisi sedunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Saya hanya iya-iya saja, bisa berbangga hati sedikit karena saya yang terpilih. Mungkin guru saya melihat saya punya bakat tampang penyair.. Lomba itu tidak saya menangkan, tapi guru saya bilang kalau saya masuk dalam final 33 besar. Saya percaya saja. Kepengen ngecek sendiri daftarnya, tapi gak tahu dimana. 

Naik ke kelas 2, guru saya menyuruh saya dan teman saya mengumpulkan puisi untuk diikutkan lomba puisi tingkat provinsi. Beliau memberikan waktu dua hari untuk itu. Temanya tentang narkoba. Waktu itu bertepatan dengan masa ujian sekolah, jadi saya lupa lupa ingat bikin puisi itu. 

Akhirnya kejadian, saya benaran lupa! Pagi-pagi baru ingat dan akhirnya buka-buka kamus sambil cari kata-kata yang kelihatannya puitis. Hahaha.. Saya kasih puisi itu ke guru saya, lalu dia malah bilang kalau teman saya itu malah tidak mengumpulkan.

Di hari Senin berikutnya, waktu upacara, nama saya tiba-tiba ikut disebut waktu Kepala Sekolah memberikan selamat pada teman saya (yang gak ngumpulkan puisi). Ternyata oh ternyata.. Puisi saya menang lomba tingkat provinsi tahun 2005. Saya yang menciptakan, tapi teman saya yang menarasikan. Ya salam.. Bangga sih, tapi agak kecewa juga waktu itu, kenapa guru saya diam-diam saja. 

Tapi setidaknya, saya jadi punya prestasi lah di sekolah walaupun hanya sebagai pujangga amatir. 

mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya
sama artinya dengan melihat senja di pelupuk mata
tenggelam, lalu kelam
petang dan tak ada suara

burung2 bayan melintasi dangau
membelah sepi menjadi suara

sesunyi inikah cinta?
apa yang tersedia tak tentu bisa
hanya untuk dilamunkan dan dikenang

aku merasa memintal tanpa benang
seperti menetak air dalam perigi

seribu kali aku menangis
seratus kali aku mati
sepuluh kali aku hidup lagi

bila lentera tercipta dari arang
tak bisakah arang menyalakan lentera?

aku adalah kamu
dan selalu seperti itu
kamulah arang bagi lenteraku
dan aku adalah lentera dari arangmu



Hanya sejumput cerita, tidak lebih ☺


[Review] – Film : Gie (2005)

Entah kenapa saya selalu merasa ketinggalan zaman kalau menyangkut film. Begitu juga dengan film ini.. Sudah turun layar selama 12 tahun, tapi saya baru mulai nonton (!).

Gie adalah sebuah film dokumenter tahun 2005, yang mengangkat kisah tentang kehidupan sosok Soe Hok Gie – seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia – yang begitu mendambakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam ke atas akan politik dan demokrasi seluruhnya ditulis dalam buku hariannya, yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Beberapa dituliskan dalam bentuk puisi. 

Saya mimpi tentang sebuah dunia, 
Dimana ulama – buruh dan pemuda, 
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan, 
Stop semua pembunuhan atas nama apapun. 
Dan para politisi di PBB, 
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, 
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, 
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, 
Agama apa pun,  ras apa pun,  dan bangsa apa pun, 
Dan melupakan perang dan kebencian, 
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 
Tuhan –  Saya mimpi tentang dunia tadi, 
Yang tak akan pernah datang. 

Selasa, 29 Oktober 1968
Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore (pada usia 14 tahun). Karena itulah, pemikiran-pemikirannya semakin terbuka luas. Gie dikenal teguh mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Bahkan di sekolah, dia berani melawan guru yang mengatakan sesuatu yang salah. Kata-katanya yang terkenal adalah : Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Gie aktif menyuarakan pendapatnya dan kritik-kritiknya melalui media massa dan diskusi-diskusi dalam dinding kampus. Banyak pihak menanyakan di sayap mana dia bergabung (golongan komunis atau bukan), yang tidak dijawabnya lugas melainkan dengan tulisan-tulisannya. Meskipun banyak yang menentangnya, tak sedikit pula yang mendukung pemikirannya. Sosok yang sama sekali tak takut menjadi berbeda. Saya tidak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin. 

Tan Tjin Han (karakter fiktif teman Gie dalam film), Herman Lantang (sahabat Gie di kampus), bahkan ibunya sendiri pun pernah menanyakan untuk apa Gie susah payah melawan situasi ini. Sudah tidak mendapat uang, malah memperbanyak musuh. Tapi, Gie hanya tersenyum menanggapi mereka. Ah, Ibu tidak mengerti..  

Gie adalah sosok yang fenomenal (menurut saya pribadi). Sesibuk-sibuknya dia mengkritisi pemerintah, ternyata dia juga masih punya kehidupan pribadi yang menarik untuk diulik. Mungkin kalau dibuat slogan, slogannya akan berbunyi : Buku, Pesta, dan Cinta. 

Dalam filmnya, Gie diceritakan suka menonton film yang diputar di auditorium, lalu mendiskusikannya. Dia juga mendirikan organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) karena kecintaannya naik gunung. 

Menurut saya,  Gie adalah sosok yang dingin tapi romantis. Meskipun dia terlihat sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Ira, puisi-puisinya menyiratkan bahwa dia mencintai teman seperjuangannya itu. Dia mencintai dengan caranya sendiri. 

#tiba-tiba saya jadi teringat sosok Rangga di film legendaris Ada Apa Dengan Cinta. Karakter yang dingin dan misterius tapi romantis hanya pada orang yang dia sayangi. Kebetulan juga yang main sama-sama Nicholas Saputra.. 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi, aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Selasa,  11 November 1969
Soe Hok Gie



Menurut saya, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kejadian yang terjadi di masa itu. Tentang demonstrasi mahasiswa UI, tentang semrawutnya kondisi pemerintahan saat itu, juga tentang keadaan rakyat yang mengenaskan. Saya mendadak teringat scene dimana Gie memberikan uang sakunya pada seorang pria yang sedang makan kulit mangga karena kelaparan. 

Gambaran itu semakin jelas dengan iringan lagu Donna Donna yang kebetulan merupakan lagu favorit Gie. Dalam film ini, Ira-lah yang menyanyikan tembang ini diiringi petikan gitarnya. Saat matanya tak sengaja menatap mata Gie, saya seperti bernarasi sendiri seolah jadi Ira. Gie, saya selalu bersamamu dan mendukungmu. Kadang saya pikir, lagu itu diciptakan untuk Gie bukannya untuk korban Nazi.

Di akhir film, dimana Gie dilukiskan sedang membayangkan melihat masa lalunya bersama Han, diselingi narasi puisinya, saya selalu meneteskan air mata. Saya juga tak tahu kenapa, tapi scene itu benar-benar seperti meluapkan perasaan terdalam saya. Seseorang yang bersedih mengingat bahwa dia telah ditinggalkan sahabatnya yang selalu mendukungnya. Han ditangkap karena dia mendukung golongan komunis. Seorang yang dalam kadang tak dihargai, tapi masih mampu untuk berjuang. 

Saya semakin kagum dengan sosok Gie mengingat dia adalah kaum minoritas, tapi dia begitu memperjuangkan kaum mayoritas. Semestinya, Indonesia membutuhkan kembali orang-orang seperti Gie.

Ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya tonton! 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

[Review] – Buku : AKU – Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

oleh Sjuman Djaya
tebal 155 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali saya kenal buku ini waktu kelas 1 atau 2 SMP. Agak lupa kapan tepatnya.. tapi yang pasti setelah film Ada Apa Dengan Cinta booming di kalangan para remaja tahun 2002. Buku ini sangat berjasa mempersatukan Rangga dan Cinta, karena kalau ga ada buku ini, mereka ga akan bisa ketemu. Hehehe..

Tapi waktu itu saya masih ga ada niatan untuk beli – apalagi baca – buku ini. Padahal waktu itu saya mulai jadi meniatkan diri menjadi pecinta sastra. Setelah masa booming-nya kelar, perlahan-lahan buku ini juga hilang dari ingatan. Sampai sekian purnama berlalu, baru tahun ini saya keinget sama buku ini. Ingetnya juga gara-gara iseng nonton AADC lagi (😛), terus kebawa perasaan waktu Rangga dan Cinta bebarengan baca quote-nya Chairil di kursi panjang depan ruang mading.

Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing..

Akhirnya, saya beli buku ini awal bulan lalu. Satu hal yang terlintas di pikiran saya waktu pertama kali baca adalah “Harusnya baca buku ini dari 15 tahun lalu.” 

Di filmnya kan diceritakan kalau waktu Rangga membaca buku ini, dia memerlukan tempat yang sepi dan konsentrasi yang tinggi (sampai ngelempar pulpen segala ke muka orang waktu berisik di perpustakaan..), ternyata memang benar!  Buku ini benar-benar menguras konsentrasi, karena tiap-tiap pergantian suasana diceritakan dalam bentuk sajak. Jadi harus benar-benar butuh tempat yang sepi, Diksi sajaknya juga puitis (beberapa cenderung sulit dimengerti) khas pujangga dan sangat berjiwa. Benar-benar melukiskan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Padahal, buku ini sebenarnya merupakan skenario film lho, yang diciptakan oleh Sjuman Djaya karena dia sangat mengidolakan Chairil Anwar. Skenario ini mungkin malah akan jadi film kalau Sjuman Djaya-nya ga keburu meninggal. 

Buku ini menceritakan kehidupan sosok Chairil mulai dari perpisahan ibu dan ayahnya sampai sifatnya yang gila membaca, bahkan sambil berjalan pun dia membaca! (hal. 20). Kemanapun dia pergi, pasti ada buku yang dibawanya. Selain kutu buku, sosok Chairil juga digambarkan sebagai seorang pria yang mudah tertarik pada wanita, sebut saja Marsiti, Dien Tamaela, Sri Ayati, anak gadis keluarga Mirat, Hapsah, Roosmeini, Gadis, Ida (entah ini khayalannya atau bukan..). Sempat merasa takjub juga dengan sifatnya ini.. benar-benar tulen sebagai pujangga. Dari buku ini saya juga baru tahu kalau Chairil itu ternyata salah satu keponakan perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.

Puisi-puisi dalam buku ini diciptakan oleh Chairil pada masa penjajahan. Jadi, mayoritas puisinya bernafaskan perjuangan dan semangat, tapi banyak juga puisi yang menyiratkan perasaannya tatkala jatuh cinta, gelisah, ataupun pasrah. Beberapa di antaranya berjudul Aku, Doa, dan Krawang – Bekasi, atau Sajak Putih. 

Bersandar pada tali warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senja
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah 

Seandainya puisi di atas dinarasikan oleh Rangga… dan 
Seharusnya anak sekolahan jaman sekarang wajib baca buku ini..

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa