Sebuah Refleksi

Cermin adalah refleksi diri yang paling baik selain pengalaman. Cermin merefleksikan diri kita secara fisik, sementara pengalaman merefleksikan diri kita secara non-fisik. 

Dari cermin, saya bisa melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada diri saya : kulit yang cokelat, badan kurus, mata kecil, hidung tidak mancung, bibir yang tidak proporsional, rambut tipis, dan kondisi kulit yang bermasalah. Sungguh berbeda dengan orang-orang yang bagi saya diberi kesempurnaan kulit putih, mata belo, hidung mancung, bentuk bibir yang bagus, rambut tebal mengkilap,  disertai kulit yang sehat dan sempurna. Saya pernah iri pada mereka. PERNAH. Sejujurnya sampai sekarang rasa iri itu masih ada, hanya kadarnya semakin menurun seiring umur saya yang bertambah tua. 

Beberapa tahun yang lalu, saya selalu mempermasalahkan semua kekurangan itu. Selalu ada hal yang membuat saya mengeluh kenapa saya diberi fisik seperti ini, kenapa ini, kenapa itu, bla bla bla, dll, dkk, etc… Kalau dijabarkan bisa banyak sekali.

Sampai pada beberapa waktu lalu, ketika saya duduk di depan cermin yang besar, dan mengamat-amati kekurangan saya, sebuah pikiran mendadak muncul. Mata saya ada dua, hidung, dan bibir saya satu. Tapi semuanya SEMPURNA

Kenapa saya mendadak merasa sempurna?

Saya memejamkan mata dan mulai mensyukuri apa yang saya punya. Banyak orang buta yang mengharapkan bisa melihat walaupun mata mereka kecil. Banyak orang yang dilahirkan dengan bibir sumbing dan hidung yang tak sempurna menginginkan bibir dan hidung yang normal. Banyak yang berkulit hitam memimpikan punya kulit lebih terang meskipun cokelat. Banyak orang yang botak karena menjalani kemoterapi ingin memiliki rambut meskipun tipis. Banyak orang gemuk berharap ingin menjadi kurus… Banyak orang memimpikan punya kondisi fisik seperti yang seringkali saya keluhkan ini. Jadi, kenapa saya harus terus mengeluh? Kenapa saya tidak bersyukur dan mencoba memperbaiki kondisi saya? 

Ada satu quote yang saya ingat saya baca dari kumpulan cerita Chicken Soup for Teenage Soul

Jika kamu tidak bisa mengubah keadaan, maka kamu harus menciptakan keadaan.

dan itulah yang saya lakukan kemudian. Saya menciptakan keadaan itu. 

Saya belajar mengenali wajah, rambut, dan badan saya. Apa yang sebenarnya mereka perlukan dan apa yang perlu saya perbaiki agar penampilan saya lebih baik. Saya mulai mencari informasi tentang semua kebutuhan mereka. Sedikit-sedikit saya mulai belajar merawat dan merias wajah walaupun tipis-tipis, juga merawat rambut dan badan. Pelan-pelan, pengetahuan saya meningkat seiring semakin seringnya saya mensyukuri apa yang saya miliki. 

Satu hal lagi yang sering saya pikirkan sampai lama. Memang tidak berkaitan dengan penampilan, tapi berkaitan dengan rasa syukur. Hal ini saya refleksikan berulang-ulang ketika rasa syukur saya mulai berkurang. 

Orang yang naik mobil sering mengeluh mobil mereka kurang lapang. Mereka tidak berpikir bahwa banyak orang yang naik motor ingin memiliki mobil. 

Orang yang naik motor sering mengeluh motor mereka sering mogok. Mereka tidak berpikir bahwa masih banyak orang yang naik sepeda kayuh ingin sekali naik motor. 

Orang yang naik sepeda kayuh sering mengeluh sepeda mereka sudah ketinggalan zaman. Mereka tidak berpikir bahwa masih banyak orang yang bahkan tidak punya kendaraan apa-apa. 

Orang yang tidak punya kendaraan apa-apa seringkali mengeluh kenapa mereka harus selalu berjalan kaki kemana-mana. Mereka tidak berpikir bahwa banyak orang yang tidak punya kaki sungguh mengharapkan bisa berjalan dengan kaki mereka sendiri. 

Orang yang tidak punya kaki seringkali mereka mengeluh kenapa mereka tidak punya kaki. Mereka lupa bahwa mereka lebih beruntung daripada orang mati. Orang mati tidak punya hidup. Sedangkan mereka masih hidup walaupun tanpa kaki. 

Masalah adalah tanda kehidupan. Memiliki masalah adalah tanda bahwa kamu hidup.

Bersyukurlah sebesar apa pun masalahmu. Karena kamu tidak pernah sendiri. 

Advertisements