throwback 🐾 – Agatha Christie’s

Crooked House a.k.a Buku Catatan Josephine (Indonesian edition) 



.
.
.
intermezzo
adalah buku Agatha Christie pertama yang saya baca di perpustakaan sekolah, dengan cover lawas berlatar belakang hitam dan gambar sepatu balet dan botol pil. Waktu itu tahun 2002. Perpustakaan sekolah saya masih bergaya kuno – dengan meja-meja dari kayu yang hampir menutupi setengah ruangan, pencahayaan agak remang-redup, bau kertas-kertas tua, dan tinta dari koleksi buku yang mulai menguning. Letaknya pun di lorong sudut sekolah yang jarang dilalui orang. Penjaganya seorang wanita setengah baya yang sederhana dan pendiam. Namanya Bu Sulis. 

Agaknya waktu itu, perpustakaan adalah tempat yang menjadi momok bagi sebagian orang. Setiap kali saya menjenguk tempat itu, bisa dihitung berapa orang yang datang ke sana. Beberapa orang dari yang berapa itu pun kebanyakan menjadikan perpustakaan sebagai basecamp untuk curhat atawa ngobrol dari hati ke hati. Kayaknya sampai sekarang pun, perpustakaan menjadi tempat yang enggan didatangi orang. Minat baca masyarakat mungkin bertambah dari tahun ke tahun, tapi nggak sampai menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit. 

Sejujurnya, karena Agatha Christie-lah saya jadi suka buku genre misteri detektif. Sejak pertama kali saya melalap habis Buku Catatan Josephine, saya ketagihan membaca seluruh seri novel detektifnya yang berjumlah 80 seri. Setiap hari saya ngubek di perpustakaan, membaca di tempat atau meminjam untuk dibawa pulang. Ini berlaku untuk novel-novel lainnya juga, semacam Mira W., Marga T., V. Lestari, dll. Pokoknya saya terkena sindrom kutu buku waktu SMP.

Sampai saya lulus sekolah, kayaknya sekitar 30-an novel Agatha Christie yang sudah saya baca. Itu juga merupakan koleksi di perpustakaan. Agak kecewa juga karena kurang lengkap serinya.. Sempat terpikir untuk membeli sendiri, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk mengoleksi buku. 

Menginjak bangku sekolah menengah, kegilaan saya ke perpustakaan kambuh lagi. Setiap hari ke perpustakaan buat pinjam buku. Sekali pinjam bisa sampai lima buku, dan dihabiskan juga hari itu. Karena mama saya seorang pecinta buku juga, jadi beliau ikut kena manisnya membaca tanpa beli. 😁

Menurut saya pribadi, Agatha Christie itu jenius!  Dia bisa membuat cerita yang evergreen – tak lekang oleh waktu. Padahal sebagian besar novelnya ditulis pada periode sebelum Perang Dunia I lho. Hampir semua novelnya relevansi sampai dengan masa kini. Jalan cerita, metode, racun-racun yang digunakan, pelaku, alibi. Satu kata buatnya : Amazing 😍

Agatha yang notabene juga seorang mantan apoteker dan perawat pada saat Perang Dunia ini, banyak memasukkan unsur obat-obatan yang digunakannya dalam bekerja. Itulah sebabnya kebanyakan pembunuhan dalam novelnya disebabkan oleh racun. Selain pekerjaannya, pekerjaan sang suami juga berkontribusi dalam penciptaan karakter dan situasi, sehingga setiap cerita tidak monoton. 

Suaminya yang pertama adalah seorang pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I, sedangkan suaminya yang kedua adalah seorang arkeolog yang gemar meneliti benda kuno dan artefak. Ketika Agatha ikut penelitian suaminya ke Mesir, saat itu jugalah ide-idenya tentang cerita bernuansa Mesir muncul, antara lain Pembunuhan di Sungai Nil dan Pembunuhan di Mesopotamia.

Satu hal lagi yang saya suka dari novel Agatha Christie selain the story plot, yakni The Detective (!).

Karakter detektif pertama ciptaan Agatha yang nyentrik, unik, gila kerapian & kebersihan, dan super-terstruktur : Mr. Hercule Poirot – pensiunan polisi asal Belgia yang beralih profesi menjadi detektif swasta di London. Terkenal dengan kumis melintangnya yang khas, sepatu tersemir mengkilap, sel-sel kelabunya yang belum aus dan tak pernah lupa dibanggakannya, dan metode-metodenya yang rinci dan akurat dengan teori psikologinya. Kadangkala ditemani sahabatnya yang lugu dan baik hati, Mr. Arthur Hastings. Pertama kali muncul dalam cerita Pembunuhan di Styles atau The Mysterious Affair at Styles.

Karakter detektif kedua ciptaan Agatha sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Digambarkan sebagai perempuan tua yang hidup di akhir zaman Victoria, suka merajut dan berkebun : Miss Jane Marple – perawan tua yang lemah tapi manis, dengan mata biru yang lembut namun tajam, mengenal sifat-sifat manusia dengan sangat baik melalui kehidupannya sehari-hari di desa St. Mary Mead. Hidup seorang diri dengan tunjangan dari keponakannya yang penulis, Raymond West dan istrinya, Joan yang seorang pelukis. Pertama kali ditampilkan dalam cerita Pembunuhan di Wisma Pendeta atau Murder at the Vicarage.

Karakter tambahan lain ciptaan Agatha adalah Mrs. Ariadne Oliver – penulis cerita detektif yang hobi makan apel, gampang panik, berbadan gemuk, dan rambut yang penataannya selalu berbeda setiap saat. Dia adalah sahabat Poirot.

Adanya karakter-karakter itulah yang berperan membuat plot cerita menjadi serius atau mengalir tenang. Misalnya, cerita dengan detektif Poirot akan terasa lebih serius dan cenderung tertata. Namun, cerita dengan detektif Miss Marple terasa lebih tenang.

Saya sendiri cenderung lebih suka bila Miss Marple yang jadi detektifnya. Hahaha.. Sayangnya hanya dalam 20 judul Miss Marple hadir. Sisanya oleh Poirot atau tokoh cerita. 

Judul favorit saya adalah : Lalu Semuanya Lenyap / 10 Anak Negro atau And Then They Were None / 10 Little Niggers dan of course Buku Catatan Josephine.

Sampai sekarang, Agatha Christie tetap menjadi penulis favorit pertama saya ❤

March 2017,
Revita L. Kusnawa