Untitled Feels

Dingin malam menyeruak bagai sembilu
Menyelimutiku dengan masa lampau yang tiba-tiba hadir
Di bawah matahari senja ketika itu
Kita bermain di tepian pantai dengan air asin yang biru
Tanpa sedikit pun rasa risau

Bulan mulai terbit menutupi matahari
Begitu pun sang raja terbit menutupi mata hati
Kita memang berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

Aku berdiri mengingat segalanya
Yang masih suci tak bernoda, murni tak berdosa
Masa silam yang tak pernah lekang
Seperti tawa kita hari itu

Pada tempatku berbagi, aku sungguh rindu
Menjemputmu dan menyuruhmu mendengarkan ocehanku
Yang seringkali membuatmu terhenyak dan terbisu
Menatapku dengan mata yang berseru bahwa kau selalu bersamaku

Kutulis surat ini dengan penaku untukmu
Yang aku tak tahu kini ada dimana
Seribu janjiku untukmu
Kita masih akan berjumpa, dalam dunia yang sama

Mungkin aku terlambat menyadari
Bahwa kita adalah orang-orang fana yang sempurna diciptakan semesta
Takdir menarik kita hidup di tanah yang sama namun di jalan yang berbeda
Hidup dan mati adalah nasib
Tak satu pun siapa yang tahu
Tapi aku tahu, kau dan aku adalah selalu

Sonata Untuk Sahabat
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

matahari menerbitkan pagi dan bulan menerbitkan malam, tapi cicit burung dan derai hujan selalu menerbitkan lirih perasaan

menelusuri nasib yang sudah berlalu, kamu seolah menyusuri mesin waktu yang bisu

melihat gubuk-gubuk kumuh di sepanjang perjalanan dan menatap yang reyot di hampir semua pematang, aku merasa semakin miskin dari waktu ke waktu

sementara sebuah tembang mengisi rongga telingaku, aku mendapati diriku berjalan dari jauh.. melihat betapa hidup itu penuh liku

aku mencoba memejamkan mata, berharap semoga hatiku ikut tak pejam

tak bisa! 

aku melihat mereka seperti aku melihat diriku di masa lampau, dengan baju bertambal dan sobek disana-sini, dengan celana pendek yang entah sudah berapa turunan

diriku seperti terperangkap dalam kisah lama… laiknya lukisan terperangkap dalam pigura di galeri

seperti kacang lupa pada kulit, atau seperti surya lupa pada teriknya, aku berpikir dalam hati

ibuku selalu bilang

kamu selalu hidup dari masa lalu, tapi masa lalu selalu saja punya pintu

Balada Seorang Tua 
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

pekan raya berlangsung meriah

penjual arumanis dan minuman berteriak silih berganti, menyeruak seperti denting gelas di tengah studio yang kedap suara

aku naik komidi putar, yang engselnya sudah karatan dan kuda-kuda besinya beraneka warna
berderik-derik seakan mau copot lalu luluh lantak

tapi masih banyak orang tertawa di atasnya, menikmati sapuan angin yang mengusap kening dan menerbangkan anak-anak rambut ke utara

semuanya ceria, semuanya bahagia

dan aku merasa seperti sebuah ironi berada di sini

perlahan kuda-kuda berhenti bergerak, dan aku menyaksikan banyak orang naik-turun bergantian sementara aku tetap di sini.. membayar lagi untuk sebuah kesenangan yang juga tak kunikmati

aku melamun seperti berada di peraduan di pedalaman
sepi di tengah ramainya pasar malam

anganku melayang-layang mengikuti sesapuan angin 

dunia karatan seperti komidi ini, tapi masih banyak juga yang ingin menyesap sensasi 

Komidi Putar Pasar Malam
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

sebaris matamu.. memuat rindu
segaris senyummu.. melantakkan kalbu
Aku bagaikan layu, runtuh
Sejenak aku tergugu
Menopang dagu dengan nukilan-nukilan rasa tentangmu
Tak ada lagu, hanya
setangkai ini yang untuk kamu

Mawar untuk Maria
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

pukul delapan malam, detik kedua tiga
samar terdengar Donna Donna dari kisi jendela yang terbuka
terbaris beberapa rima dalam kata
meruntun membentuk sebuah sajak rasa

serantai bait menguak mata yang sembab
membisu dalam buaian lagu
tengok ke belakang, ke masa lampau
tiada akan kau temui hari ini
jika tiada peluh dan doa ribuan serdadu

melati dan kamboja berbunga sebelahan
putih dan merah mekar bebarengan
tengoklah ke belakang
hidup selamanya perjuangan

Limaret
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

Advertisements

Sepenggal Kata Minggu Pagi

di sisi cangkir kopi, aku duduk bersama remah roti yang mulai basi, menatap orang-orang tua yang mengantri untuk mendapat sesuap nasi

lagu balada mengalun liris, seakan memperjelas nasib mereka
tongkat-tongkat kayu saling beradu dalam barisan, juga topi-topi kumal yang sudah lusuh dan bersulam
bersisian wanita-wanita berpegangan tangan sambil berdoa
semoga Tuhan tidak libur hari ini

bayi-bayi menangis sementara anak-anak kecil mengais-ngais
untuk sekedar menemukan sedikit apa saja yang terbagi

di sisian lain ada para orang yang berdasi
memesan kopi hari ini
espresso, cappuccino, dan macchiato
sementara di udara lagu pop bergaung seakan tak peduli

aku menyesap kopiku perlahan dan mendesah dalam hati
beginikah balada negeri ini?
terisap ampas-ampas kopi yang pahit
hanya menyisakan sengit dan pailit

sesenggukan tangis dan air mata bergantian turun menyungai di pipi
hatiku berdesir tapi hanya bisa melihat dari yang tak tampak mata

karung-karung kain dibagikan, harganya hampir sama dengan segelas kecil kopi Eropa
aku jadi tahu rasanya neraka di bumi, yang bersisian dengan surga

Secangkir Kopi di Surga
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

> > >

gerimis melukis langit
aroma tanah mengusik sepiku
menabur narwastu

tetiba aku rindu..
pada semua yang melekat padamu

kaca jendela bagaikan bersalju
tertutup remang rintik hujan
tak ada kulihat apa-apa
sekalipun itu bayang-bayang

aku seperti orang kesasar yang tak tahu kemana harus pergi,
ke sisian mana aku harus berlalu?
ke tepian mana aku harus berlabuh?

menatap di kejauhan seperti menatap dekat matamu
yang sebulat mata kaca
dan sebening embun pagi

mendadak aku ingin diam saja
membiarkan detik bersua dengan pelangi di ujung senja

jendelaku terembes air tawar
memasuki kisi-kisi persis seperti bayanganmu pada benakku
begitu ragu begitu sendu

terbit di angan
kau berdua dengannya di sana
seperti aku berdua dengan bayanganku

Hujan Hari Ini
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317


Hidup untuk Menulis, lalu Menulis untuk Hidup

Cita-cita terpendam saya adalah jadi penulis. Menurut saya, jadi penulis itu enak. Hidup untuk Menulis, lalu Menulis untuk Hidup. Itu pemikiran saya waktu masih bau kencur. Kayaknya enak banget, pegang pulpen aja udah dapet duit… 

Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya dulu itu saya naif banget. Karena kebanyakan baca cerpen-cerpen di Bobo, saya pikir menulis itu mudah. Padahal menulis itu (memang) mudah… yang sulit adalah mencari dan menuangkan idenya. Benar kan? 

Kadang-kadang abis baca cerpen di Bobo, saya iseng nulis-nulis cerpen juga. Semangat banget waktu itu saya mencari nama-nama tokoh buat cerita saya. Nama yang aneh-aneh dan kadang malah tak lazim. 😶

Setelah cerita karangan saya selesai, biasanya saya tunjukkin ke mama saya. Beliau saya anggap sebagai editor dan juga pemberi saran. Beberapa menit setelah beliau baca-baca sekilas, langsung kritiknya keluar semua. Kritik lho ya, bukan saran. 

Katanya cerpen saya aneh, ending-nya ga masuk akal, terus jalan ceritanya lompat-lompat ga jelas. Dari A langsung ke C, bukannya lewat B dulu. Waktu itu saya masih SD, jadi ya bisa ditebaklah gimana akhirnya. Saya mutung, malas buat cerpen lagi karena ujung-ujungnya selalu ditolak. Ngerti saya mutung, mama saya lalu menjelaskan kenapa ga masuk akalnya, dll.

Saya inget dulu itu saya seringnya bikin cerpen tentang rumah tangga. Hahaha… Makanya mama saya selalu kasih komentar kalau cerpen saya ga masuk akal. Lha saya sendiri belum mengalami yang namanya membangun rumah tangga kok bikin cerita tentang itu. Cerpen itu kadang bisa dibuat kalau kita merasakan sendiri. Tapi tak selalu. Itu nasihat mama saya.

Lulus SD saya makin jarang buat cerpen, tapi makin sering baca buku. Buku apa saja saya baca. Waktu mulai langganan majalah dimana Dian Sastro pernah jadi pemenangnya, niat saya bikin cerpen muncul lagi. Tapi niat saya nulis bersamaan dengan niat saya baca. Jadi saya pilih baca aja lah. Alasan saya selalu sama. Idenya belum muncul. Akhirnya selama SMP saya vakum nulis-nulis apapun. Paling cuma buku harian. 

Masuk SMA, saya kepengen nulis lagi. Mau nulis cerpen, tapi masih kapok kena pengalaman zaman SD. Akhirnya saya memilih menulis puisi. Karena masih amatiran, jadi pilihan katanya amburadul. Puisinya saya dasarkan dari pengalaman saya sehari-hari di sekolah. Kadang, kalau puisi saya ga sengaja kebaca teman, ujung-ujungnya pasti nyindir woo.. ada pujangga baru lahir. Nyebelin memang… 

Masa SMA adalah masa produktif saya menulis puisi. Lagi galau, nulis. Lagi sedih, nulis. Lagi senang, nulis. Bahkan kadang saya juga nulis kalau saya lagi bingung. 

Setelah lulus SMA, saya vakum nulis lagi. Sampai tahun ini kira-kira sudah 10 tahun (!). Soalnya di kampus tempat saya kuliah ga ada yang suka sih.. Jadinya kagok kan kalau ga ada temannya. Waktu itu juga saya lagi terbawa arus banget. Nongkrong, jalan ke mall, nonton bioskop. Pokoknya itu terus yang dilakuin. Pernah ikut organisasi juga sebentar, tapi entah kenapa waktu itu saya keluar. Padahal itu organisasi pers mahasiswa, yang seharusnya bisa menjadi wadah aspirasi saya. 

Tahun ini saya kepengen rajin menulis lagi.. Apa saja. Bahkan saya ingin menjadikan proyek saya sekarang jadi kenyataan. Cerpen & Novel. 

Agaknya cita-cita masa kecil saya pulang kandang. Semangat saya menulis sudah kembali, sudah ga melempem lagi. Semoga proyek saya bisa rampung tahun ini dan semoga ada yang berminat menerbitkannya. Berharap boleh kan. 

Pukul 5 petang. Saya butuh secangkir kopi lagi. 

Wednesday • [Review] – Skincare : Shiseido Senka Mineral Water UV Essence

Halo semua! 

Di postingan ini, aku akan me-review produk skincare dari lini Shiseido. Pasti sudah pada tahu Shiseido kan? 

Shiseido (株式会社資生堂 Kabushiki-gaisha Shiseidō?, Japanese: [ɕiseeꜜdoː]) adalah perusahaan multinasional Jepang yang memfokuskan diri pada produk personal care, seperti perawatan rambut, kulit, kosmetik, dan parfum. Shiseido didirikan pada tahun 1872 oleh Arinobu Fukuhara, seorang kepala farmasi di Japanese Imperial Navy. Nama Shiseido berarti “praise the virtues of the earth which nurtures new life and brings forth significant values.” 

Produk skincare yang akan aku ulas kali ini adalah sunscreen Shiseido Senka. 

Sudah lama aku mencari produk sunscreen yang cocok di kulit aku yang oily, sensitive, dan acne clogged proneAku tertarik mencoba produk Shiseido Senka ini karena klaimnya yang menggoda : 
water-based dari air Gunung Fuji
• cocok untuk kulit sensitif
• memiliki proteksi cukup besar  (SPF 50+ PA ++++) ❤
• tidak menimbulkan white cast
• mempunyai kandungan Coenzyme Q10 & Hyaluronic Acid untuk mencegah penuaan dini
• tidak menutup pori-pori
• tidak memerlukan double cleansing!

It sounds so tempting, right?  *buat aku, ini semacam penyelamat.. soalnya kadang kalau kecapekan bangett aku suka skip pake cleansing gel / micellar water*

Setelah dua mingguan menunggu PO, akhirnya si Senka ini sampai juga ke tangan aku ❤

Packaging

It comes with very cute bright yellow-orange colour! 😍

Jarang-jarang kan ada kemasan skincare yang warnanya kuning ngejreng gini? Hehehe..

Shiseido Senka ini hadir dalam satu ukuran handy size 50 g. Berbentuk tube dengan tutup model ulir seperti sunscreen kebanyakan, tapi tutupnya gampang banget keputer 😐 jadi rawan bocor kalau kepencet. Plastik tubenya juga tipiss banget, mudah sobek. So, hati-hati ya kalau mau dibawa travelling. Pastiin tutupnya rapat dan jangan ditaruh berdekatan dengan benda tajam seperti gunting.

Waktu beli, aku kelupaan baca ingredients-nya! Padahal ini salah satu hal yang ga boleh aku lewatkan mengingat jenis kulitku. Aku biasa memakai produk skincare yang tanpa kandungan parfume/fragrance karena pewangi kadang bisa menimbulkan iritasi pada kulitku. 

Sempat ragu-ragu juga produk ini ada pewanginya atau ga.. Soalnya takut banget bikin jerawatan lagi. Mau baca keterangan di karton kemasannya juga ga bisa, karena pakai huruf Hiragana semua 😶. Akhirnya aku googling lagi dan untungnya ada review yang bilang kalau produk ini fragrance free, mineral oil free, dan allergy tested.  So, let’s try 🍶

Shiseido Senka ini teksturnya watery dan ringan sekali, tidak lengket, mudah dibaurkan di kulit karena water-based, dan menyerapnya juga relatif cepat. Sekitar 2 menit sudah terserap sempurna. Klaimnya tentang tidak adanya white cast terbukti! Kelihatan natural banget seperti tanpa sunscreen. Final result nya sedikit dewy, tapi efeknya buat kulit jadi terlihat glowing sehat. Sukaaa banget.. Kulitku juga tidak mengalami yang namanya breakout, gatal-gatal, atau iritasi. Padahal aku memakai ini waktu sedang kedatangan beberapa papula di wajahku. Love love love it ❤

Untuk klaim mudah dibersihkan tanpa double cleansing, produk ini proof it perfectly. Produk ini not waterproof, jadi mudah dibersihkan cuma dengan pakai facial foam. Tidak meninggalkan residu juga di kapas setelah cuci muka. Tapi klaim ini aku coba hanya untuk buktiin supaya bisa direview di blog ini 😊. Setelahnya.. aku balik lagi ke rutinitas awalku, double cleansing. Hehe.. Soalnya gimana gitu. Sejak rutin melakukan double cleansing, jadi ada yang ilang kalau ga ada step pertama. Aku juga orangnya parnoan, takut jerawatan lagi.

At least aku harus mengakui kalau produk ini jempolan sekali ✌. 

Sayangnya, produk ini belum ada di Indonesia. Di Jepang pun kadang-kadang stoknya habis, karena memang produk ini masuk dalam salah satu produk favorit disana. Harus restock jauh sebelum abis isinya. Untuk harganya, menurutku masih affordable. Bisa dicek sendiri yaa di online shop…

Totally rated 5 of 5 🍒
This should be my holy grail

Where I buy it? 👀
Cherry Cosme
instagram : cherry_cosme

[Review] – Buku : Tidak Ada New York Hari Ini

puisi M. Aan Mansyur | foto Mo Riza
tebal 180 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku puisi pertama yang saya punya, gara-gara puisinya Rangga di sekuel film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah hampir setahun buku ini di-launching, bertepatan dengan launching filmnya, tapi saya baru tahu dua bulan lalu. Itu pun gara-gara nonton filmnya lebih dulu di komputer *saya ga nonton di bioskop karena saya kudet agak lama*. Padahal, review-nya sendiri sudah banyak banget di internet. Belum lagi dulu jadi trending topic di twitter. Telat banget ya saya… Hahaha.. Tapi mumpung belum terlalu terlambat, saya akan coba mengulas buku ini. 

Film AADC memang berkaitan sekali dengan puisi-puisi romantis karya Rangga. Meskipun Rangga itu nyebelin, tapi kalau sudah nulis puisi… dalemm banget rasanya. 

Bagi saya, puisi itu seni. Saya bilang seni, karena ga setiap orang bisa lho bikin puisi yang bisa bikin orang yang baca kebat-kebit. Puisi itu kata-kata yang interpretasinya harus dilakukan dengan hati. Buat saya, puisi itu ungkapan hati yang kadang njelimet dipahami. Biasanya orang yang suka puisi itu orangnya juga romantis.. Hehehe *abaikan*

Balik lagi ke bukunya. 

Dalam buku ini ada 31 buah puisi (kalau ga salah hitung) yang diciptakan oleh Aan Mansyur. Semuanya merupakan ungkapan hati Rangga – kegalauan, kesedihan, kesendirian, dan dilemanya. Saya kira ini kumpulan puisinya selama seratus delapan purnama semenjak putus dari Cinta.

Beberapa di antaranya dinarasikan oleh Rangga di film. Masih ingat kan, scene-scene film dimana puisi-puisinya muncul?

Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, 

Kau yang dingin di kenang

(Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. 
(Pukul 4 Pagi, hal. 12)

Aku seperti menyalami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu. 
(Pagi di Central Park, hal. 22)

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 
(Batas, hal. 46)

Dalamm banget kan artinya? 

Sebagai pecinta dan penikmat puisi, buku ini menarik untuk dibaca. Pilihan diksinya sederhana, kata-kata yang banyak kita dengar setiap hari. Tapi, rangkaiannya sungguh mengagumkan. Maknanya begitu apa ya? Saya bingung memilih istilah yang cukup tepat untuk puisi-puisi ini..

Buku ini dilengkapi dengan New York street photography karya Mo Riza. Menggambarkan suasana yang dihadapi Rangga setiap hari, foto-foto ini terkonsep dengan apik. Saya membayangkan foto-foto ini adalah karya Rangga, kan di sekuelnya, Rangga punya hobi fotografi..

Saya belum membaca buku-buku karya Aan Mansyur lainnya, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila, dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, tapi setelah buku puisi ini, sepertinya perburuan saya akan berlanjut. Hehehe.. 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

Sejumput Cerita di Menjelang Petang

Menulis adalah hal yang tak asing bagi siapapun. Anak-anak belajar menulis sejak tangan mereka bisa menggenggam pena. Seperti lukisan, tulisan adalah sebuah pengekspresian diri yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk lain. Menulis itu menyenangkan – setidaknya bagi saya – karena selagi menulis, saya murni menjadi diri saya sendiri. 

Menulis itu tidak gampang. Apalagi jika menulis sebuah sastra yang setiap katanya seakan nyata. Banyak orang mengira bahwa menulis itu mudah, tapi sebenarnya mereka tidak paham sepenuhnya apa yang mereka tulis. Menjabarkan aksara memang mudah kalau tanpa arti. Setidaknya sewaktu sekolah, sering kan menulis kalimat-kalimat yang tak bernyawa? 

Menulis adalah pelarian saya ketika saya tidak bisa menemukan seseorang yang saya ajak berbagi. Dulu, kertas dan pena menjadi teman setia saya di segala suasana. Suka dan duka atau murung dan riang. Saya bisa mengatakan apa pun pada kertas. Tapi tidak pada manusia. Kertas tidak akan menasihati saya, memaki, atau menguliahi saya. Dia akan diam saja. Karena itulah, kertas selalu menjadi wadah yang lebih tahu siapa saya.

Beberapa buku harian saya menjadi saksi perjalanan hidup saya dari masa ke masa. Sayang sudah saya bakar semua, karena waktu saya baca lagi, isinya terlalu menggelikan. Padahal, sebenarnya saya tak perlu malu dengan semua itu. Setiap kata di dalamnya akan bertambah matang seiring bertambah dewasanya usia, apapun perasaan waktu itu.

Kalau isi buku harian saya mengagumkan, mungkin buku itu bisa menjadi saingan Catatan Seorang Demonstran. 

Waktu sekolah, tulisan-tulisan saya lebih banyak dalam bentuk puisi. Sekedar untuk saya simpan sendiri atau dipasang di majalah dinding. Puisi adalah rangkaian kata yang benar-benar menggambarkan perasaan yang terdalam. Sepintas menurut saya, kadang saya merasa diri sendiri ini adalah pujangga. Hahaha… Silakan tertawa. 

Sampai saat ini, saya merasa belum terlalu berbakat menulis puisi. Tapi, kadang-kadang nekat ikut lomba hanya supaya eksis. Kalau menang, syukur. Tidak menang pun, syukur. Setidaknya ada wadah yang bisa menampung tulisan saya. 

Waktu sekolah – saya masih kelas 1 SMA – guru bahasa saya mendaftarkan diri saya sebagai peserta lomba puisi sedunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Saya hanya iya-iya saja, bisa berbangga hati sedikit karena saya yang terpilih. Mungkin guru saya melihat saya punya bakat tampang penyair.. Lomba itu tidak saya menangkan, tapi guru saya bilang kalau saya masuk dalam final 33 besar. Saya percaya saja. Kepengen ngecek sendiri daftarnya, tapi gak tahu dimana. 

Naik ke kelas 2, guru saya menyuruh saya dan teman saya mengumpulkan puisi untuk diikutkan lomba puisi tingkat provinsi. Beliau memberikan waktu dua hari untuk itu. Temanya tentang narkoba. Waktu itu bertepatan dengan masa ujian sekolah, jadi saya lupa lupa ingat bikin puisi itu. 

Akhirnya kejadian, saya benaran lupa! Pagi-pagi baru ingat dan akhirnya buka-buka kamus sambil cari kata-kata yang kelihatannya puitis. Hahaha.. Saya kasih puisi itu ke guru saya, lalu dia malah bilang kalau teman saya itu malah tidak mengumpulkan.

Di hari Senin berikutnya, waktu upacara, nama saya tiba-tiba ikut disebut waktu Kepala Sekolah memberikan selamat pada teman saya (yang gak ngumpulkan puisi). Ternyata oh ternyata.. Puisi saya menang lomba tingkat provinsi tahun 2005. Saya yang menciptakan, tapi teman saya yang menarasikan. Ya salam.. Bangga sih, tapi agak kecewa juga waktu itu, kenapa guru saya diam-diam saja. 

Tapi setidaknya, saya jadi punya prestasi lah di sekolah walaupun hanya sebagai pujangga amatir. 

mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya
sama artinya dengan melihat senja di pelupuk mata
tenggelam, lalu kelam
petang dan tak ada suara

burung2 bayan melintasi dangau
membelah sepi menjadi suara

sesunyi inikah cinta?
apa yang tersedia tak tentu bisa
hanya untuk dilamunkan dan dikenang

aku merasa memintal tanpa benang
seperti menetak air dalam perigi

seribu kali aku menangis
seratus kali aku mati
sepuluh kali aku hidup lagi

bila lentera tercipta dari arang
tak bisakah arang menyalakan lentera?

aku adalah kamu
dan selalu seperti itu
kamulah arang bagi lenteraku
dan aku adalah lentera dari arangmu



Hanya sejumput cerita, tidak lebih ☺


[Review] – Film : Gie (2005)

Entah kenapa saya selalu merasa ketinggalan zaman kalau menyangkut film. Begitu juga dengan film ini.. Sudah turun layar selama 12 tahun, tapi saya baru mulai nonton (!).

Gie adalah sebuah film dokumenter tahun 2005, yang mengangkat kisah tentang kehidupan sosok Soe Hok Gie – seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia – yang begitu mendambakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam ke atas akan politik dan demokrasi seluruhnya ditulis dalam buku hariannya, yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Beberapa dituliskan dalam bentuk puisi. 

Saya mimpi tentang sebuah dunia, 
Dimana ulama – buruh dan pemuda, 
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan, 
Stop semua pembunuhan atas nama apapun. 
Dan para politisi di PBB, 
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, 
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, 
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, 
Agama apa pun,  ras apa pun,  dan bangsa apa pun, 
Dan melupakan perang dan kebencian, 
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 
Tuhan –  Saya mimpi tentang dunia tadi, 
Yang tak akan pernah datang. 

Selasa, 29 Oktober 1968
Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore (pada usia 14 tahun). Karena itulah, pemikiran-pemikirannya semakin terbuka luas. Gie dikenal teguh mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Bahkan di sekolah, dia berani melawan guru yang mengatakan sesuatu yang salah. Kata-katanya yang terkenal adalah : Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Gie aktif menyuarakan pendapatnya dan kritik-kritiknya melalui media massa dan diskusi-diskusi dalam dinding kampus. Banyak pihak menanyakan di sayap mana dia bergabung (golongan komunis atau bukan), yang tidak dijawabnya lugas melainkan dengan tulisan-tulisannya. Meskipun banyak yang menentangnya, tak sedikit pula yang mendukung pemikirannya. Sosok yang sama sekali tak takut menjadi berbeda. Saya tidak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin. 

Tan Tjin Han (karakter fiktif teman Gie dalam film), Herman Lantang (sahabat Gie di kampus), bahkan ibunya sendiri pun pernah menanyakan untuk apa Gie susah payah melawan situasi ini. Sudah tidak mendapat uang, malah memperbanyak musuh. Tapi, Gie hanya tersenyum menanggapi mereka. Ah, Ibu tidak mengerti..  

Gie adalah sosok yang fenomenal (menurut saya pribadi). Sesibuk-sibuknya dia mengkritisi pemerintah, ternyata dia juga masih punya kehidupan pribadi yang menarik untuk diulik. Mungkin kalau dibuat slogan, slogannya akan berbunyi : Buku, Pesta, dan Cinta. 

Dalam filmnya, Gie diceritakan suka menonton film yang diputar di auditorium, lalu mendiskusikannya. Dia juga mendirikan organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) karena kecintaannya naik gunung. 

Menurut saya,  Gie adalah sosok yang dingin tapi romantis. Meskipun dia terlihat sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Ira, puisi-puisinya menyiratkan bahwa dia mencintai teman seperjuangannya itu. Dia mencintai dengan caranya sendiri. 

#tiba-tiba saya jadi teringat sosok Rangga di film legendaris Ada Apa Dengan Cinta. Karakter yang dingin dan misterius tapi romantis hanya pada orang yang dia sayangi. Kebetulan juga yang main sama-sama Nicholas Saputra.. 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi, aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Selasa,  11 November 1969
Soe Hok Gie



Menurut saya, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kejadian yang terjadi di masa itu. Tentang demonstrasi mahasiswa UI, tentang semrawutnya kondisi pemerintahan saat itu, juga tentang keadaan rakyat yang mengenaskan. Saya mendadak teringat scene dimana Gie memberikan uang sakunya pada seorang pria yang sedang makan kulit mangga karena kelaparan. 

Gambaran itu semakin jelas dengan iringan lagu Donna Donna yang kebetulan merupakan lagu favorit Gie. Dalam film ini, Ira-lah yang menyanyikan tembang ini diiringi petikan gitarnya. Saat matanya tak sengaja menatap mata Gie, saya seperti bernarasi sendiri seolah jadi Ira. Gie, saya selalu bersamamu dan mendukungmu. Kadang saya pikir, lagu itu diciptakan untuk Gie bukannya untuk korban Nazi.

Di akhir film, dimana Gie dilukiskan sedang membayangkan melihat masa lalunya bersama Han, diselingi narasi puisinya, saya selalu meneteskan air mata. Saya juga tak tahu kenapa, tapi scene itu benar-benar seperti meluapkan perasaan terdalam saya. Seseorang yang bersedih mengingat bahwa dia telah ditinggalkan sahabatnya yang selalu mendukungnya. Han ditangkap karena dia mendukung golongan komunis. Seorang yang dalam kadang tak dihargai, tapi masih mampu untuk berjuang. 

Saya semakin kagum dengan sosok Gie mengingat dia adalah kaum minoritas, tapi dia begitu memperjuangkan kaum mayoritas. Semestinya, Indonesia membutuhkan kembali orang-orang seperti Gie.

Ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya tonton! 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa