Demokrasi dalam Tanda Tanya

Indonesia saat ini sedang dilanda krisis yang hebat. Krisis moral, persatuan, dan identitas sekaligus. Semua hanya karena akronim empat abjad : SARA. Etnis Tionghoa serta merta dimusuhi, dijauhi seperti orang kusta, didemo, dan ingin dihancurkan. Tapi manut minta ampun sama orang londo, bule, atau siapapun yang penting bukan Cina. Padahal menurut sejarah, orang-orang Tionghoa perantauan dulu malah ikut berjuang membela Indonesia sedangkan nenek moyangnya si londo bule ini malah yang dulu menjajah nusantara. Inikah yang namanya adil? Yang menjajah yang disembah, yang berjuang malah dibuang. Saya terus terang gagal paham.

Tidak cukup hanya suku saja yang dipermasalahkan. Agama juga. Non-muslim dibilang kafir, yang tidak sejalan kafir, yang tidak mendukung kafir. Pokoknya agama selain muslim itu Kafir! Titik. Tak boleh ada bantahan. Apa dipikirnya yang dihina kafir itu tidak punya perasaan semua? Lalu bagaimana dengan negeri londo dan negeri bule yang disembah itu? Mayoritas penduduknya non-muslim. Apa masih akan bilang dengan berapi-api kalau mereka semua kafir? Bisa ditutup semua investasi di negara ini. Dan berita itu pastilah menyebar cepat bagaikan kebakaran. Seluruh dunia tahu. Seluruh dunia melihat tingkah rakyat Indonesia. Kalau investasi terhadap Indonesia diblok oleh negara-negara maju, bagaimana nasib Indonesia ke depan? Nasib rakyat? Apakah tidak merasa malu? Pernahkah berpikir sejauh itu? Semua akibatnya akan ditanggung sepenuhnya oleh rakyat, bukan mereka-mereka yang bermain. Rakyat bakal siap-siap makin kere.

Setelah agama lalu buruh dipermainkan. Idealisme-idealisme yang mungkin para buruh tidak tahu sebelumnya ditanam dan dikembangbiakkan. Membodohi rakyat sendiri demi menebalkan kantong pribadi. Saya setuju dengan perkataan Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa Indonesia bukanlah milik satu ras, satu suku, dan satu agama saja. Indonesia itu keberagaman! Dari Sabang sampai Merauke! Berbagai suku bangsa, bahasa, dan kesenian! Mengutip pesan beliau : Jasmerah (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah), karena biasanya yang melupakan sejarah itu lah yang sering keblinger.

Demokrasi sekarang sangatlah berbeda dengan demokrasi masa lalu yang saya pelajari waktu SD. Saya tidak habis pikir sebenarnya apa yang dimusuhi dan apa sebabnya. Ahok yang keturunan Tionghoa, non-Muslim, dan yang kalau ngomong ceplas-ceplos dimusuhi. Jokowi yang notabene putera Indonesia asli, Muslim, dan santun juga dimusuhi. Saya jadi heran dan seringkali saya buat bahan perenungan. Yang dimusuhi justru yang kinerjanya efektif dan efisien. Semakin saya merenung, semakin paham dan yakin lah saya bahwa sebenarnya yang dimusuhi adalah persamaan sifat dasar mereka : Jujur, Transparan, Adil, Merakyat. Benar kan yang saya bilang?

Mungkin inilah akar permasalahan yang membuat bangsa ini tidak bisa maju. Memerangi kejujuran, transparansi, keadilan, dan kerakyatan pemerintahnya sendiri. Dilayani oleh pelayan yang setia dan baik malah meradang, demo terus-terusan, kontra, sampai menyebutkan semua penghuni Ragunan dan teriak-teriak “Bunuh! Bunuh!”. Pertanyaan saya satu tapi panjang : Anda Tuhan? Punya hak apa Anda menyuruh bunuh-bunuh orang? Anda tidak berdosa? Menyuruh orang membunuh sesamanya apakah tidak dianggap dosa?”. Saya yakin di agama apa pun, kitab suci mana pun, siapa pun Nabinya pasti mengajarkan : Jangan Membunuh. Tuhan saja masih bermurah hati memaafkan umatNya yang kadang kebablasan ini. Tidak heran sejak dulu negara ini terus berkembang. Berkembang terus… tapi ke belakang. Para penguasa memikirkan dompet sendiri dulu, rakyat belakangan. Itu juga kalau tidak kelupaan. Sungguh prihatin.

Mari berjabat tangan saja lah. Damai itu indah. Taman bunga saja makin cantik kalau bunganya beraneka bentuk dan warna. Indonesia juga taman bunga yang indah (kalau disiram pupuk cinta). Ingatlah bahwa air selalu bisa mengalahkan api. Dingin selalu mampu menyejukkan dahaga. Berdiam diri bukan berarti kalah kok. Saya hanya ingin tidak ada peperangan yang membara sia-sia hanya karena sumbu yang disulut terus menerus.

Buat yang menang, saya mengucapkan selamat menjalankan tugas, semoga amanah, dan menjadikan Indonesia lebih baik ke depannya. Bagi yang kalah, saya mengucapkan selamat berlibur dari keporak-porandaan kondisi saat ini. Semoga saja situasi segera membaik. Salam demokrasi!

Salam cinta damai.

Artikel ini diambil dari tulisan saya di media Seword.com

https://seword.com/politik/demokrasi-dalam-tanda-tanya/

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s