Tuesday Poem

di pinggir jalan kudapati wajah-wajah kusam dan berdebu
terekam dalam sendu dan risau
menggeliat dalam nestapa
melukiskan setumpuk belenggu
potret manusia dalam tiadanya

terkulai menantikan siang menjadi malam
seperti tanah tandus menantikan hujan
sayap-sayap patah berhamburan
tak bisa kemana-mana walau hanya sekitaran

berkaus kutang dan bercelana pendek
bersandal jepit bersepatu buaya
mengisap rokok sisa berasap doa

mari lihatlah

bayi-bayi telanjang yang tidur dalam buaian
rebah dalam dekapan sang bunda
menangis minta susu
yang tak bisa diberikan sang ibu

kerikil-kerikil tajam menghantam pondok daun berpintu satu
tempat tikar dan dipan berjajar seperti sarden
kemarau..
ini kemarau dalam hidup
atau hidup dalam kemarau

hujan pun turun menghalau debu
sekalian menenggelamkan kerikil ke dalam kubangan
menggantang asap yang tidak dikepulkan api

pondok daun menutup pintu
sendok garpu beradu dalam bisu
bayi-bayi minum susu

pernahkah bertanya? 
kapankah ini bisa dimulai?

Manusia dan Sayap-Sayap yang Patah
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 140317

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s