Untitled Feels

Dingin malam menyeruak bagai sembilu
Menyelimutiku dengan masa lampau yang tiba-tiba hadir
Di bawah matahari senja ketika itu
Kita bermain di tepian pantai dengan air asin yang biru
Tanpa sedikit pun rasa risau

Bulan mulai terbit menutupi matahari
Begitu pun sang raja terbit menutupi mata hati
Kita memang berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

Aku berdiri mengingat segalanya
Yang masih suci tak bernoda, murni tak berdosa
Masa silam yang tak pernah lekang
Seperti tawa kita hari itu

Pada tempatku berbagi, aku sungguh rindu
Menjemputmu dan menyuruhmu mendengarkan ocehanku
Yang seringkali membuatmu terhenyak dan terbisu
Menatapku dengan mata yang berseru bahwa kau selalu bersamaku

Kutulis surat ini dengan penaku untukmu
Yang aku tak tahu kini ada dimana
Seribu janjiku untukmu
Kita masih akan berjumpa, dalam dunia yang sama

Mungkin aku terlambat menyadari
Bahwa kita adalah orang-orang fana yang sempurna diciptakan semesta
Takdir menarik kita hidup di tanah yang sama namun di jalan yang berbeda
Hidup dan mati adalah nasib
Tak satu pun siapa yang tahu
Tapi aku tahu, kau dan aku adalah selalu

Sonata Untuk Sahabat
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

matahari menerbitkan pagi dan bulan menerbitkan malam, tapi cicit burung dan derai hujan selalu menerbitkan lirih perasaan

menelusuri nasib yang sudah berlalu, kamu seolah menyusuri mesin waktu yang bisu

melihat gubuk-gubuk kumuh di sepanjang perjalanan dan menatap yang reyot di hampir semua pematang, aku merasa semakin miskin dari waktu ke waktu

sementara sebuah tembang mengisi rongga telingaku, aku mendapati diriku berjalan dari jauh.. melihat betapa hidup itu penuh liku

aku mencoba memejamkan mata, berharap semoga hatiku ikut tak pejam

tak bisa! 

aku melihat mereka seperti aku melihat diriku di masa lampau, dengan baju bertambal dan sobek disana-sini, dengan celana pendek yang entah sudah berapa turunan

diriku seperti terperangkap dalam kisah lama… laiknya lukisan terperangkap dalam pigura di galeri

seperti kacang lupa pada kulit, atau seperti surya lupa pada teriknya, aku berpikir dalam hati

ibuku selalu bilang

kamu selalu hidup dari masa lalu, tapi masa lalu selalu saja punya pintu

Balada Seorang Tua 
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

pekan raya berlangsung meriah

penjual arumanis dan minuman berteriak silih berganti, menyeruak seperti denting gelas di tengah studio yang kedap suara

aku naik komidi putar, yang engselnya sudah karatan dan kuda-kuda besinya beraneka warna
berderik-derik seakan mau copot lalu luluh lantak

tapi masih banyak orang tertawa di atasnya, menikmati sapuan angin yang mengusap kening dan menerbangkan anak-anak rambut ke utara

semuanya ceria, semuanya bahagia

dan aku merasa seperti sebuah ironi berada di sini

perlahan kuda-kuda berhenti bergerak, dan aku menyaksikan banyak orang naik-turun bergantian sementara aku tetap di sini.. membayar lagi untuk sebuah kesenangan yang juga tak kunikmati

aku melamun seperti berada di peraduan di pedalaman
sepi di tengah ramainya pasar malam

anganku melayang-layang mengikuti sesapuan angin 

dunia karatan seperti komidi ini, tapi masih banyak juga yang ingin menyesap sensasi 

Komidi Putar Pasar Malam
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

sebaris matamu.. memuat rindu
segaris senyummu.. melantakkan kalbu
Aku bagaikan layu, runtuh
Sejenak aku tergugu
Menopang dagu dengan nukilan-nukilan rasa tentangmu
Tak ada lagu, hanya
setangkai ini yang untuk kamu

Mawar untuk Maria
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

>>>

pukul delapan malam, detik kedua tiga
samar terdengar Donna Donna dari kisi jendela yang terbuka
terbaris beberapa rima dalam kata
meruntun membentuk sebuah sajak rasa

serantai bait menguak mata yang sembab
membisu dalam buaian lagu
tengok ke belakang, ke masa lampau
tiada akan kau temui hari ini
jika tiada peluh dan doa ribuan serdadu

melati dan kamboja berbunga sebelahan
putih dan merah mekar bebarengan
tengoklah ke belakang
hidup selamanya perjuangan

Limaret
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 050317

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s