Sejumput Cerita di Menjelang Petang

Menulis adalah hal yang tak asing bagi siapapun. Anak-anak belajar menulis sejak tangan mereka bisa menggenggam pena. Seperti lukisan, tulisan adalah sebuah pengekspresian diri yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk lain. Menulis itu menyenangkan – setidaknya bagi saya – karena selagi menulis, saya murni menjadi diri saya sendiri. 

Menulis itu tidak gampang. Apalagi jika menulis sebuah sastra yang setiap katanya seakan nyata. Banyak orang mengira bahwa menulis itu mudah, tapi sebenarnya mereka tidak paham sepenuhnya apa yang mereka tulis. Menjabarkan aksara memang mudah kalau tanpa arti. Setidaknya sewaktu sekolah, sering kan menulis kalimat-kalimat yang tak bernyawa? 

Menulis adalah pelarian saya ketika saya tidak bisa menemukan seseorang yang saya ajak berbagi. Dulu, kertas dan pena menjadi teman setia saya di segala suasana. Suka dan duka atau murung dan riang. Saya bisa mengatakan apa pun pada kertas. Tapi tidak pada manusia. Kertas tidak akan menasihati saya, memaki, atau menguliahi saya. Dia akan diam saja. Karena itulah, kertas selalu menjadi wadah yang lebih tahu siapa saya.

Beberapa buku harian saya menjadi saksi perjalanan hidup saya dari masa ke masa. Sayang sudah saya bakar semua, karena waktu saya baca lagi, isinya terlalu menggelikan. Padahal, sebenarnya saya tak perlu malu dengan semua itu. Setiap kata di dalamnya akan bertambah matang seiring bertambah dewasanya usia, apapun perasaan waktu itu.

Kalau isi buku harian saya mengagumkan, mungkin buku itu bisa menjadi saingan Catatan Seorang Demonstran. 

Waktu sekolah, tulisan-tulisan saya lebih banyak dalam bentuk puisi. Sekedar untuk saya simpan sendiri atau dipasang di majalah dinding. Puisi adalah rangkaian kata yang benar-benar menggambarkan perasaan yang terdalam. Sepintas menurut saya, kadang saya merasa diri sendiri ini adalah pujangga. Hahaha… Silakan tertawa. 

Sampai saat ini, saya merasa belum terlalu berbakat menulis puisi. Tapi, kadang-kadang nekat ikut lomba hanya supaya eksis. Kalau menang, syukur. Tidak menang pun, syukur. Setidaknya ada wadah yang bisa menampung tulisan saya. 

Waktu sekolah – saya masih kelas 1 SMA – guru bahasa saya mendaftarkan diri saya sebagai peserta lomba puisi sedunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Saya hanya iya-iya saja, bisa berbangga hati sedikit karena saya yang terpilih. Mungkin guru saya melihat saya punya bakat tampang penyair.. Lomba itu tidak saya menangkan, tapi guru saya bilang kalau saya masuk dalam final 33 besar. Saya percaya saja. Kepengen ngecek sendiri daftarnya, tapi gak tahu dimana. 

Naik ke kelas 2, guru saya menyuruh saya dan teman saya mengumpulkan puisi untuk diikutkan lomba puisi tingkat provinsi. Beliau memberikan waktu dua hari untuk itu. Temanya tentang narkoba. Waktu itu bertepatan dengan masa ujian sekolah, jadi saya lupa lupa ingat bikin puisi itu. 

Akhirnya kejadian, saya benaran lupa! Pagi-pagi baru ingat dan akhirnya buka-buka kamus sambil cari kata-kata yang kelihatannya puitis. Hahaha.. Saya kasih puisi itu ke guru saya, lalu dia malah bilang kalau teman saya itu malah tidak mengumpulkan.

Di hari Senin berikutnya, waktu upacara, nama saya tiba-tiba ikut disebut waktu Kepala Sekolah memberikan selamat pada teman saya (yang gak ngumpulkan puisi). Ternyata oh ternyata.. Puisi saya menang lomba tingkat provinsi tahun 2005. Saya yang menciptakan, tapi teman saya yang menarasikan. Ya salam.. Bangga sih, tapi agak kecewa juga waktu itu, kenapa guru saya diam-diam saja. 

Tapi setidaknya, saya jadi punya prestasi lah di sekolah walaupun hanya sebagai pujangga amatir. 

mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya
sama artinya dengan melihat senja di pelupuk mata
tenggelam, lalu kelam
petang dan tak ada suara

burung2 bayan melintasi dangau
membelah sepi menjadi suara

sesunyi inikah cinta?
apa yang tersedia tak tentu bisa
hanya untuk dilamunkan dan dikenang

aku merasa memintal tanpa benang
seperti menetak air dalam perigi

seribu kali aku menangis
seratus kali aku mati
sepuluh kali aku hidup lagi

bila lentera tercipta dari arang
tak bisakah arang menyalakan lentera?

aku adalah kamu
dan selalu seperti itu
kamulah arang bagi lenteraku
dan aku adalah lentera dari arangmu



Hanya sejumput cerita, tidak lebih ☺


Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s