[Review] – Buku : Tidak Ada New York Hari Ini

puisi M. Aan Mansyur | foto Mo Riza
tebal 180 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Ini adalah buku puisi pertama yang saya punya, gara-gara puisinya Rangga di sekuel film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah hampir setahun buku ini di-launching, bertepatan dengan launching filmnya, tapi saya baru tahu dua bulan lalu. Itu pun gara-gara nonton filmnya lebih dulu di komputer *saya ga nonton di bioskop karena saya kudet agak lama*. Padahal, review-nya sendiri sudah banyak banget di internet. Belum lagi dulu jadi trending topic di twitter. Telat banget ya saya… Hahaha.. Tapi mumpung belum terlalu terlambat, saya akan coba mengulas buku ini. 

Film AADC memang berkaitan sekali dengan puisi-puisi romantis karya Rangga. Meskipun Rangga itu nyebelin, tapi kalau sudah nulis puisi… dalemm banget rasanya. 

Bagi saya, puisi itu seni. Saya bilang seni, karena ga setiap orang bisa lho bikin puisi yang bisa bikin orang yang baca kebat-kebit. Puisi itu kata-kata yang interpretasinya harus dilakukan dengan hati. Buat saya, puisi itu ungkapan hati yang kadang njelimet dipahami. Biasanya orang yang suka puisi itu orangnya juga romantis.. Hehehe *abaikan*

Balik lagi ke bukunya. 

Dalam buku ini ada 31 buah puisi (kalau ga salah hitung) yang diciptakan oleh Aan Mansyur. Semuanya merupakan ungkapan hati Rangga – kegalauan, kesedihan, kesendirian, dan dilemanya. Saya kira ini kumpulan puisinya selama seratus delapan purnama semenjak putus dari Cinta.

Beberapa di antaranya dinarasikan oleh Rangga di film. Masih ingat kan, scene-scene film dimana puisi-puisinya muncul?

Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, 

Kau yang dingin di kenang

(Tidak Ada New York Hari Ini, hal. 10)

Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. 
(Pukul 4 Pagi, hal. 12)

Aku seperti menyalami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu. 
(Pagi di Central Park, hal. 22)

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 
(Batas, hal. 46)

Dalamm banget kan artinya? 

Sebagai pecinta dan penikmat puisi, buku ini menarik untuk dibaca. Pilihan diksinya sederhana, kata-kata yang banyak kita dengar setiap hari. Tapi, rangkaiannya sungguh mengagumkan. Maknanya begitu apa ya? Saya bingung memilih istilah yang cukup tepat untuk puisi-puisi ini..

Buku ini dilengkapi dengan New York street photography karya Mo Riza. Menggambarkan suasana yang dihadapi Rangga setiap hari, foto-foto ini terkonsep dengan apik. Saya membayangkan foto-foto ini adalah karya Rangga, kan di sekuelnya, Rangga punya hobi fotografi..

Saya belum membaca buku-buku karya Aan Mansyur lainnya, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila, dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, tapi setelah buku puisi ini, sepertinya perburuan saya akan berlanjut. Hehehe.. 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s