[Review] – Film : Gie (2005)

Entah kenapa saya selalu merasa ketinggalan zaman kalau menyangkut film. Begitu juga dengan film ini.. Sudah turun layar selama 12 tahun, tapi saya baru mulai nonton (!).

Gie adalah sebuah film dokumenter tahun 2005, yang mengangkat kisah tentang kehidupan sosok Soe Hok Gie – seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia – yang begitu mendambakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. 

Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam ke atas akan politik dan demokrasi seluruhnya ditulis dalam buku hariannya, yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Beberapa dituliskan dalam bentuk puisi. 

Saya mimpi tentang sebuah dunia, 
Dimana ulama – buruh dan pemuda, 
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan, 
Stop semua pembunuhan atas nama apapun. 
Dan para politisi di PBB, 
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, 
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, 
Dan lupa akan diplomasi
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, 
Agama apa pun,  ras apa pun,  dan bangsa apa pun, 
Dan melupakan perang dan kebencian, 
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. 
Tuhan –  Saya mimpi tentang dunia tadi, 
Yang tak akan pernah datang. 

Selasa, 29 Oktober 1968
Soe Hok Gie

Sejak kecil, Gie banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore (pada usia 14 tahun). Karena itulah, pemikiran-pemikirannya semakin terbuka luas. Gie dikenal teguh mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya. Bahkan di sekolah, dia berani melawan guru yang mengatakan sesuatu yang salah. Kata-katanya yang terkenal adalah : Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. 

Gie aktif menyuarakan pendapatnya dan kritik-kritiknya melalui media massa dan diskusi-diskusi dalam dinding kampus. Banyak pihak menanyakan di sayap mana dia bergabung (golongan komunis atau bukan), yang tidak dijawabnya lugas melainkan dengan tulisan-tulisannya. Meskipun banyak yang menentangnya, tak sedikit pula yang mendukung pemikirannya. Sosok yang sama sekali tak takut menjadi berbeda. Saya tidak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin. 

Tan Tjin Han (karakter fiktif teman Gie dalam film), Herman Lantang (sahabat Gie di kampus), bahkan ibunya sendiri pun pernah menanyakan untuk apa Gie susah payah melawan situasi ini. Sudah tidak mendapat uang, malah memperbanyak musuh. Tapi, Gie hanya tersenyum menanggapi mereka. Ah, Ibu tidak mengerti..  

Gie adalah sosok yang fenomenal (menurut saya pribadi). Sesibuk-sibuknya dia mengkritisi pemerintah, ternyata dia juga masih punya kehidupan pribadi yang menarik untuk diulik. Mungkin kalau dibuat slogan, slogannya akan berbunyi : Buku, Pesta, dan Cinta. 

Dalam filmnya, Gie diceritakan suka menonton film yang diputar di auditorium, lalu mendiskusikannya. Dia juga mendirikan organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) karena kecintaannya naik gunung. 

Menurut saya,  Gie adalah sosok yang dingin tapi romantis. Meskipun dia terlihat sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Ira, puisi-puisinya menyiratkan bahwa dia mencintai teman seperjuangannya itu. Dia mencintai dengan caranya sendiri. 

#tiba-tiba saya jadi teringat sosok Rangga di film legendaris Ada Apa Dengan Cinta. Karakter yang dingin dan misterius tapi romantis hanya pada orang yang dia sayangi. Kebetulan juga yang main sama-sama Nicholas Saputra.. 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi, aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Selasa,  11 November 1969
Soe Hok Gie



Menurut saya, film ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kejadian yang terjadi di masa itu. Tentang demonstrasi mahasiswa UI, tentang semrawutnya kondisi pemerintahan saat itu, juga tentang keadaan rakyat yang mengenaskan. Saya mendadak teringat scene dimana Gie memberikan uang sakunya pada seorang pria yang sedang makan kulit mangga karena kelaparan. 

Gambaran itu semakin jelas dengan iringan lagu Donna Donna yang kebetulan merupakan lagu favorit Gie. Dalam film ini, Ira-lah yang menyanyikan tembang ini diiringi petikan gitarnya. Saat matanya tak sengaja menatap mata Gie, saya seperti bernarasi sendiri seolah jadi Ira. Gie, saya selalu bersamamu dan mendukungmu. Kadang saya pikir, lagu itu diciptakan untuk Gie bukannya untuk korban Nazi.

Di akhir film, dimana Gie dilukiskan sedang membayangkan melihat masa lalunya bersama Han, diselingi narasi puisinya, saya selalu meneteskan air mata. Saya juga tak tahu kenapa, tapi scene itu benar-benar seperti meluapkan perasaan terdalam saya. Seseorang yang bersedih mengingat bahwa dia telah ditinggalkan sahabatnya yang selalu mendukungnya. Han ditangkap karena dia mendukung golongan komunis. Seorang yang dalam kadang tak dihargai, tapi masih mampu untuk berjuang. 

Saya semakin kagum dengan sosok Gie mengingat dia adalah kaum minoritas, tapi dia begitu memperjuangkan kaum mayoritas. Semestinya, Indonesia membutuhkan kembali orang-orang seperti Gie.

Ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah saya tonton! 

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s