[Review] – Buku : AKU – Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

oleh Sjuman Djaya
tebal 155 halaman
penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali saya kenal buku ini waktu kelas 1 atau 2 SMP. Agak lupa kapan tepatnya.. tapi yang pasti setelah film Ada Apa Dengan Cinta booming di kalangan para remaja tahun 2002. Buku ini sangat berjasa mempersatukan Rangga dan Cinta, karena kalau ga ada buku ini, mereka ga akan bisa ketemu. Hehehe..

Tapi waktu itu saya masih ga ada niatan untuk beli – apalagi baca – buku ini. Padahal waktu itu saya mulai jadi meniatkan diri menjadi pecinta sastra. Setelah masa booming-nya kelar, perlahan-lahan buku ini juga hilang dari ingatan. Sampai sekian purnama berlalu, baru tahun ini saya keinget sama buku ini. Ingetnya juga gara-gara iseng nonton AADC lagi (😛), terus kebawa perasaan waktu Rangga dan Cinta bebarengan baca quote-nya Chairil di kursi panjang depan ruang mading.

Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing..

Akhirnya, saya beli buku ini awal bulan lalu. Satu hal yang terlintas di pikiran saya waktu pertama kali baca adalah “Harusnya baca buku ini dari 15 tahun lalu.” 

Di filmnya kan diceritakan kalau waktu Rangga membaca buku ini, dia memerlukan tempat yang sepi dan konsentrasi yang tinggi (sampai ngelempar pulpen segala ke muka orang waktu berisik di perpustakaan..), ternyata memang benar!  Buku ini benar-benar menguras konsentrasi, karena tiap-tiap pergantian suasana diceritakan dalam bentuk sajak. Jadi harus benar-benar butuh tempat yang sepi, Diksi sajaknya juga puitis (beberapa cenderung sulit dimengerti) khas pujangga dan sangat berjiwa. Benar-benar melukiskan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Padahal, buku ini sebenarnya merupakan skenario film lho, yang diciptakan oleh Sjuman Djaya karena dia sangat mengidolakan Chairil Anwar. Skenario ini mungkin malah akan jadi film kalau Sjuman Djaya-nya ga keburu meninggal. 

Buku ini menceritakan kehidupan sosok Chairil mulai dari perpisahan ibu dan ayahnya sampai sifatnya yang gila membaca, bahkan sambil berjalan pun dia membaca! (hal. 20). Kemanapun dia pergi, pasti ada buku yang dibawanya. Selain kutu buku, sosok Chairil juga digambarkan sebagai seorang pria yang mudah tertarik pada wanita, sebut saja Marsiti, Dien Tamaela, Sri Ayati, anak gadis keluarga Mirat, Hapsah, Roosmeini, Gadis, Ida (entah ini khayalannya atau bukan..). Sempat merasa takjub juga dengan sifatnya ini.. benar-benar tulen sebagai pujangga. Dari buku ini saya juga baru tahu kalau Chairil itu ternyata salah satu keponakan perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.

Puisi-puisi dalam buku ini diciptakan oleh Chairil pada masa penjajahan. Jadi, mayoritas puisinya bernafaskan perjuangan dan semangat, tapi banyak juga puisi yang menyiratkan perasaannya tatkala jatuh cinta, gelisah, ataupun pasrah. Beberapa di antaranya berjudul Aku, Doa, dan Krawang – Bekasi, atau Sajak Putih. 

Bersandar pada tali warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senja
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah 

Seandainya puisi di atas dinarasikan oleh Rangga… dan 
Seharusnya anak sekolahan jaman sekarang wajib baca buku ini..

Rated : 5 of 5
Maret 2017,
Revita L. Kusnawa

Advertisements

Author: Revita L. Kusnawa

The Beginner Writer - ❤ . . 27 yo / female / Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s