Featured

a Simple Entry

Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan saja buku-bukunya ; maka pastilah bangsa itu akan musnah. 

If you want to destroy a nation and civilization, just destroy his books; then surely the people will perish.
– Milan Kundera

Selamat menjelang petang, semua. . 
Ini adalah postingan pertama saya.

Good evening,  everyone. . 
This is my very first post

Saya adalah seorang pecinta sastra, buku, dan puisi. Entah kenapa saya suka sekali pada mereka. Mungkin, lewat mereka lah pengetahuan saya melanglang buana. Pengetahuan yang tidak melulu saya dapatkan di bangku kelas. Bagi saya, mereka adalah kendaraan yang bisa membawa saya melintasi waktu dan benua. Seandainya mereka adalah manusia, sudah pasti menjadi cinta pertama saya. 

I am a lover of literature, books, and poetry – even i don’t know why I fall so in love with them. Perhaps, because of them, my knowledge grow big and bigger. The knowledges that not only I get in class seat. For me, those are the vehicles that can carry me across time and continents. If they are human, has certainly become my first love. ❤

Sastra, buku, dan puisi adalah hal yang istimewa. Ketika menyelam lebih dalam ke dunianya, di sanalah ada beragam makna.

Literatures,  books,  and poetry are my own special things. When you try to diving deeper into their world, you’ll meet the meaning of them. 

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis.. tentang buku yang saya baca, tentang sastra yang sedang saya pahami, tentang puisi-puisi yang saya rangkai. . ataupun tentang musik yang saya dengar, dan tentang film yang saya tonton.

It’s been a long time .. I really wanted to write about the books I read, about literature I’ve being understand, about the poems of mine. . , nor about the music I hear, and about a movie that I watched.

Sekedar berbagi ataupun bertukar pikiran. 

Just for sharing and exchange ideas. 

post

Aku, seorang penulis pemula
I am,  the beginner writer

Advertisements

Demokrasi dalam Tanda Tanya

Indonesia saat ini sedang dilanda krisis yang hebat. Krisis moral, persatuan, dan identitas sekaligus. Semua hanya karena akronim empat abjad : SARA. Etnis Tionghoa serta merta dimusuhi, dijauhi seperti orang kusta, didemo, dan ingin dihancurkan. Tapi manut minta ampun sama orang londo, bule, atau siapapun yang penting bukan Cina. Padahal menurut sejarah, orang-orang Tionghoa perantauan dulu malah ikut berjuang membela Indonesia sedangkan nenek moyangnya si londo bule ini malah yang dulu menjajah nusantara. Inikah yang namanya adil? Yang menjajah yang disembah, yang berjuang malah dibuang. Saya terus terang gagal paham.

Tidak cukup hanya suku saja yang dipermasalahkan. Agama juga. Non-muslim dibilang kafir, yang tidak sejalan kafir, yang tidak mendukung kafir. Pokoknya agama selain muslim itu Kafir! Titik. Tak boleh ada bantahan. Apa dipikirnya yang dihina kafir itu tidak punya perasaan semua? Lalu bagaimana dengan negeri londo dan negeri bule yang disembah itu? Mayoritas penduduknya non-muslim. Apa masih akan bilang dengan berapi-api kalau mereka semua kafir? Bisa ditutup semua investasi di negara ini. Dan berita itu pastilah menyebar cepat bagaikan kebakaran. Seluruh dunia tahu. Seluruh dunia melihat tingkah rakyat Indonesia. Kalau investasi terhadap Indonesia diblok oleh negara-negara maju, bagaimana nasib Indonesia ke depan? Nasib rakyat? Apakah tidak merasa malu? Pernahkah berpikir sejauh itu? Semua akibatnya akan ditanggung sepenuhnya oleh rakyat, bukan mereka-mereka yang bermain. Rakyat bakal siap-siap makin kere.

Setelah agama lalu buruh dipermainkan. Idealisme-idealisme yang mungkin para buruh tidak tahu sebelumnya ditanam dan dikembangbiakkan. Membodohi rakyat sendiri demi menebalkan kantong pribadi. Saya setuju dengan perkataan Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa Indonesia bukanlah milik satu ras, satu suku, dan satu agama saja. Indonesia itu keberagaman! Dari Sabang sampai Merauke! Berbagai suku bangsa, bahasa, dan kesenian! Mengutip pesan beliau : Jasmerah (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah), karena biasanya yang melupakan sejarah itu lah yang sering keblinger.

Demokrasi sekarang sangatlah berbeda dengan demokrasi masa lalu yang saya pelajari waktu SD. Saya tidak habis pikir sebenarnya apa yang dimusuhi dan apa sebabnya. Ahok yang keturunan Tionghoa, non-Muslim, dan yang kalau ngomong ceplas-ceplos dimusuhi. Jokowi yang notabene putera Indonesia asli, Muslim, dan santun juga dimusuhi. Saya jadi heran dan seringkali saya buat bahan perenungan. Yang dimusuhi justru yang kinerjanya efektif dan efisien. Semakin saya merenung, semakin paham dan yakin lah saya bahwa sebenarnya yang dimusuhi adalah persamaan sifat dasar mereka : Jujur, Transparan, Adil, Merakyat. Benar kan yang saya bilang?

Mungkin inilah akar permasalahan yang membuat bangsa ini tidak bisa maju. Memerangi kejujuran, transparansi, keadilan, dan kerakyatan pemerintahnya sendiri. Dilayani oleh pelayan yang setia dan baik malah meradang, demo terus-terusan, kontra, sampai menyebutkan semua penghuni Ragunan dan teriak-teriak “Bunuh! Bunuh!”. Pertanyaan saya satu tapi panjang : Anda Tuhan? Punya hak apa Anda menyuruh bunuh-bunuh orang? Anda tidak berdosa? Menyuruh orang membunuh sesamanya apakah tidak dianggap dosa?”. Saya yakin di agama apa pun, kitab suci mana pun, siapa pun Nabinya pasti mengajarkan : Jangan Membunuh. Tuhan saja masih bermurah hati memaafkan umatNya yang kadang kebablasan ini. Tidak heran sejak dulu negara ini terus berkembang. Berkembang terus… tapi ke belakang. Para penguasa memikirkan dompet sendiri dulu, rakyat belakangan. Itu juga kalau tidak kelupaan. Sungguh prihatin.

Mari berjabat tangan saja lah. Damai itu indah. Taman bunga saja makin cantik kalau bunganya beraneka bentuk dan warna. Indonesia juga taman bunga yang indah (kalau disiram pupuk cinta). Ingatlah bahwa air selalu bisa mengalahkan api. Dingin selalu mampu menyejukkan dahaga. Berdiam diri bukan berarti kalah kok. Saya hanya ingin tidak ada peperangan yang membara sia-sia hanya karena sumbu yang disulut terus menerus.

Buat yang menang, saya mengucapkan selamat menjalankan tugas, semoga amanah, dan menjadikan Indonesia lebih baik ke depannya. Bagi yang kalah, saya mengucapkan selamat berlibur dari keporak-porandaan kondisi saat ini. Semoga saja situasi segera membaik. Salam demokrasi!

Salam cinta damai.

Artikel ini diambil dari tulisan saya di media Seword.com

https://seword.com/politik/demokrasi-dalam-tanda-tanya/

Friday • [Review] – Skincare : Shiseido Pressed Baby Powder Medicated

Hi girls!

Produk yang akan aku bahas di postingan kali ini adalah bedak dari brand Shiseido, yaitu Shiseido Baby Powder (Pressed) Medicated. Ini semacam bedak tabur, tapi bentuknya dipadatkan. Akhir-akhir ini aku lagi suka banget sama brand ini. Kayak ada semacam chemistry gitu.. hehe *abaikan

Aku beli pressed baby powder ini karena kata klaimnya bisa mengontrol minyak berlebih pada wajah tanpa menimbulkan jerawat walaupun tergolong bedak padat. Itulah sebabnya ada tambahan istilah “medicated” di belakang namanya. Aman digunakan untuk kulit sensitif sekalipun – bisa untuk bayi – dan bisa digunakan sebagai setting powder untuk hasil akhir yang matte! Kalau sudah ada embel-embel oil control, not causing acne, matte result, dan fit in sensitive skin gini biasanya aku gampang kemakan iklan *korban iklan 😶

Sebenarnya packagingnya yang lucu menjadi faktor utama aku melirik produk ini. Hehehe.. Bentuknya bulat, terus tutup sama wadahnya terpisah.Warnanya kombinasi putih tulang dan biru donker dengan tulisan baby powder di atasnya. Cute (!) ❤

Ada cover yang menutupi bedak, pertanda bahwa produk yang aku beli masih tersegel. Penampakan isinya sama dengan compact powder lainnya, bedanya ada pada spons yang ada dalam kemasan. Spons yang digunakan pada bedak ini adalah spons yang biasanya dipakai untuk membaurkan bedak tabur. Sponsnya lucu, empuk, tebal, dan halusss banget. 😍 *jadi sayang dipake..
Karena datangnya pada waktu yang tepat, ditambah udah nggak sabar, aku langsung memakai bedak ini untuk menge-set wajah aku yang sebelumnya memakai sunscreen Shiseido juga..

The Result??

I’m so falling in love with this medicated baby powder 💕

Hasilnya betulan matte di wajah aku, tanpa kesan tebal atau berat seperti kalau pakai bedak padat lainnya. Malah aku agak nggak yakin kalau sudah pakai bedak. Hahaha..
Klaim oil control -nya juara! Bisa bertahan di wajah aku yang ladang minyak ini selama 3 jam. Selama itu aku berada di ruangan tanpa AC loh! Padahal biasanya 1 jam aja sudah pada nongol semua tambang minyak di wajahku. Super banget kan ini bedak?

Untuk kulit sensitif ini juga cocok banget, karena ringan dan nggak menutup pori-pori. Setelah pakai satu minggu berturut-turut, it doesn’t make my skin breakout. *yeayy.. *dancing

I rated it 5 of 5 🌷

Where I buy it? 👀
Cherry Cosme
instagram : cherry_cosme

Tuesday Poem

di pinggir jalan kudapati wajah-wajah kusam dan berdebu
terekam dalam sendu dan risau
menggeliat dalam nestapa
melukiskan setumpuk belenggu
potret manusia dalam tiadanya

terkulai menantikan siang menjadi malam
seperti tanah tandus menantikan hujan
sayap-sayap patah berhamburan
tak bisa kemana-mana walau hanya sekitaran

berkaus kutang dan bercelana pendek
bersandal jepit bersepatu buaya
mengisap rokok sisa berasap doa

mari lihatlah

bayi-bayi telanjang yang tidur dalam buaian
rebah dalam dekapan sang bunda
menangis minta susu
yang tak bisa diberikan sang ibu

kerikil-kerikil tajam menghantam pondok daun berpintu satu
tempat tikar dan dipan berjajar seperti sarden
kemarau..
ini kemarau dalam hidup
atau hidup dalam kemarau

hujan pun turun menghalau debu
sekalian menenggelamkan kerikil ke dalam kubangan
menggantang asap yang tidak dikepulkan api

pondok daun menutup pintu
sendok garpu beradu dalam bisu
bayi-bayi minum susu

pernahkah bertanya? 
kapankah ini bisa dimulai?

Manusia dan Sayap-Sayap yang Patah
*poetry is originally created by author
*please put the source if you made a copy

Revita L. Kusnawa | 140317

throwback 🐾 – Agatha Christie’s

Crooked House a.k.a Buku Catatan Josephine (Indonesian edition) 



.
.
.
intermezzo
adalah buku Agatha Christie pertama yang saya baca di perpustakaan sekolah, dengan cover lawas berlatar belakang hitam dan gambar sepatu balet dan botol pil. Waktu itu tahun 2002. Perpustakaan sekolah saya masih bergaya kuno – dengan meja-meja dari kayu yang hampir menutupi setengah ruangan, pencahayaan agak remang-redup, bau kertas-kertas tua, dan tinta dari koleksi buku yang mulai menguning. Letaknya pun di lorong sudut sekolah yang jarang dilalui orang. Penjaganya seorang wanita setengah baya yang sederhana dan pendiam. Namanya Bu Sulis. 

Agaknya waktu itu, perpustakaan adalah tempat yang menjadi momok bagi sebagian orang. Setiap kali saya menjenguk tempat itu, bisa dihitung berapa orang yang datang ke sana. Beberapa orang dari yang berapa itu pun kebanyakan menjadikan perpustakaan sebagai basecamp untuk curhat atawa ngobrol dari hati ke hati. Kayaknya sampai sekarang pun, perpustakaan menjadi tempat yang enggan didatangi orang. Minat baca masyarakat mungkin bertambah dari tahun ke tahun, tapi nggak sampai menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit. 

Sejujurnya, karena Agatha Christie-lah saya jadi suka buku genre misteri detektif. Sejak pertama kali saya melalap habis Buku Catatan Josephine, saya ketagihan membaca seluruh seri novel detektifnya yang berjumlah 80 seri. Setiap hari saya ngubek di perpustakaan, membaca di tempat atau meminjam untuk dibawa pulang. Ini berlaku untuk novel-novel lainnya juga, semacam Mira W., Marga T., V. Lestari, dll. Pokoknya saya terkena sindrom kutu buku waktu SMP.

Sampai saya lulus sekolah, kayaknya sekitar 30-an novel Agatha Christie yang sudah saya baca. Itu juga merupakan koleksi di perpustakaan. Agak kecewa juga karena kurang lengkap serinya.. Sempat terpikir untuk membeli sendiri, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk mengoleksi buku. 

Menginjak bangku sekolah menengah, kegilaan saya ke perpustakaan kambuh lagi. Setiap hari ke perpustakaan buat pinjam buku. Sekali pinjam bisa sampai lima buku, dan dihabiskan juga hari itu. Karena mama saya seorang pecinta buku juga, jadi beliau ikut kena manisnya membaca tanpa beli. 😁

Menurut saya pribadi, Agatha Christie itu jenius!  Dia bisa membuat cerita yang evergreen – tak lekang oleh waktu. Padahal sebagian besar novelnya ditulis pada periode sebelum Perang Dunia I lho. Hampir semua novelnya relevansi sampai dengan masa kini. Jalan cerita, metode, racun-racun yang digunakan, pelaku, alibi. Satu kata buatnya : Amazing 😍

Agatha yang notabene juga seorang mantan apoteker dan perawat pada saat Perang Dunia ini, banyak memasukkan unsur obat-obatan yang digunakannya dalam bekerja. Itulah sebabnya kebanyakan pembunuhan dalam novelnya disebabkan oleh racun. Selain pekerjaannya, pekerjaan sang suami juga berkontribusi dalam penciptaan karakter dan situasi, sehingga setiap cerita tidak monoton. 

Suaminya yang pertama adalah seorang pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I, sedangkan suaminya yang kedua adalah seorang arkeolog yang gemar meneliti benda kuno dan artefak. Ketika Agatha ikut penelitian suaminya ke Mesir, saat itu jugalah ide-idenya tentang cerita bernuansa Mesir muncul, antara lain Pembunuhan di Sungai Nil dan Pembunuhan di Mesopotamia.

Satu hal lagi yang saya suka dari novel Agatha Christie selain the story plot, yakni The Detective (!).

Karakter detektif pertama ciptaan Agatha yang nyentrik, unik, gila kerapian & kebersihan, dan super-terstruktur : Mr. Hercule Poirot – pensiunan polisi asal Belgia yang beralih profesi menjadi detektif swasta di London. Terkenal dengan kumis melintangnya yang khas, sepatu tersemir mengkilap, sel-sel kelabunya yang belum aus dan tak pernah lupa dibanggakannya, dan metode-metodenya yang rinci dan akurat dengan teori psikologinya. Kadangkala ditemani sahabatnya yang lugu dan baik hati, Mr. Arthur Hastings. Pertama kali muncul dalam cerita Pembunuhan di Styles atau The Mysterious Affair at Styles.

Karakter detektif kedua ciptaan Agatha sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Digambarkan sebagai perempuan tua yang hidup di akhir zaman Victoria, suka merajut dan berkebun : Miss Jane Marple – perawan tua yang lemah tapi manis, dengan mata biru yang lembut namun tajam, mengenal sifat-sifat manusia dengan sangat baik melalui kehidupannya sehari-hari di desa St. Mary Mead. Hidup seorang diri dengan tunjangan dari keponakannya yang penulis, Raymond West dan istrinya, Joan yang seorang pelukis. Pertama kali ditampilkan dalam cerita Pembunuhan di Wisma Pendeta atau Murder at the Vicarage.

Karakter tambahan lain ciptaan Agatha adalah Mrs. Ariadne Oliver – penulis cerita detektif yang hobi makan apel, gampang panik, berbadan gemuk, dan rambut yang penataannya selalu berbeda setiap saat. Dia adalah sahabat Poirot.

Adanya karakter-karakter itulah yang berperan membuat plot cerita menjadi serius atau mengalir tenang. Misalnya, cerita dengan detektif Poirot akan terasa lebih serius dan cenderung tertata. Namun, cerita dengan detektif Miss Marple terasa lebih tenang.

Saya sendiri cenderung lebih suka bila Miss Marple yang jadi detektifnya. Hahaha.. Sayangnya hanya dalam 20 judul Miss Marple hadir. Sisanya oleh Poirot atau tokoh cerita. 

Judul favorit saya adalah : Lalu Semuanya Lenyap / 10 Anak Negro atau And Then They Were None / 10 Little Niggers dan of course Buku Catatan Josephine.

Sampai sekarang, Agatha Christie tetap menjadi penulis favorit pertama saya ❤

March 2017,
Revita L. Kusnawa

Sebuah Refleksi

Cermin adalah refleksi diri yang paling baik selain pengalaman. Cermin merefleksikan diri kita secara fisik, sementara pengalaman merefleksikan diri kita secara non-fisik. 

Dari cermin, saya bisa melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada diri saya : kulit yang cokelat, badan kurus, mata kecil, hidung tidak mancung, bibir yang tidak proporsional, rambut tipis, dan kondisi kulit yang bermasalah. Sungguh berbeda dengan orang-orang yang bagi saya diberi kesempurnaan kulit putih, mata belo, hidung mancung, bentuk bibir yang bagus, rambut tebal mengkilap,  disertai kulit yang sehat dan sempurna. Saya pernah iri pada mereka. PERNAH. Sejujurnya sampai sekarang rasa iri itu masih ada, hanya kadarnya semakin menurun seiring umur saya yang bertambah tua. 

Beberapa tahun yang lalu, saya selalu mempermasalahkan semua kekurangan itu. Selalu ada hal yang membuat saya mengeluh kenapa saya diberi fisik seperti ini, kenapa ini, kenapa itu, bla bla bla, dll, dkk, etc… Kalau dijabarkan bisa banyak sekali.

Sampai pada beberapa waktu lalu, ketika saya duduk di depan cermin yang besar, dan mengamat-amati kekurangan saya, sebuah pikiran mendadak muncul. Mata saya ada dua, hidung, dan bibir saya satu. Tapi semuanya SEMPURNA

Kenapa saya mendadak merasa sempurna?

Saya memejamkan mata dan mulai mensyukuri apa yang saya punya. Banyak orang buta yang mengharapkan bisa melihat walaupun mata mereka kecil. Banyak orang yang dilahirkan dengan bibir sumbing dan hidung yang tak sempurna menginginkan bibir dan hidung yang normal. Banyak yang berkulit hitam memimpikan punya kulit lebih terang meskipun cokelat. Banyak orang yang botak karena menjalani kemoterapi ingin memiliki rambut meskipun tipis. Banyak orang gemuk berharap ingin menjadi kurus… Banyak orang memimpikan punya kondisi fisik seperti yang seringkali saya keluhkan ini. Jadi, kenapa saya harus terus mengeluh? Kenapa saya tidak bersyukur dan mencoba memperbaiki kondisi saya? 

Ada satu quote yang saya ingat saya baca dari kumpulan cerita Chicken Soup for Teenage Soul

Jika kamu tidak bisa mengubah keadaan, maka kamu harus menciptakan keadaan.

dan itulah yang saya lakukan kemudian. Saya menciptakan keadaan itu. 

Saya belajar mengenali wajah, rambut, dan badan saya. Apa yang sebenarnya mereka perlukan dan apa yang perlu saya perbaiki agar penampilan saya lebih baik. Saya mulai mencari informasi tentang semua kebutuhan mereka. Sedikit-sedikit saya mulai belajar merawat dan merias wajah walaupun tipis-tipis, juga merawat rambut dan badan. Pelan-pelan, pengetahuan saya meningkat seiring semakin seringnya saya mensyukuri apa yang saya miliki. 

Satu hal lagi yang sering saya pikirkan sampai lama. Memang tidak berkaitan dengan penampilan, tapi berkaitan dengan rasa syukur. Hal ini saya refleksikan berulang-ulang ketika rasa syukur saya mulai berkurang. 

Orang yang naik mobil sering mengeluh mobil mereka kurang lapang. Mereka tidak berpikir bahwa banyak orang yang naik motor ingin memiliki mobil. 

Orang yang naik motor sering mengeluh motor mereka sering mogok. Mereka tidak berpikir bahwa masih banyak orang yang naik sepeda kayuh ingin sekali naik motor. 

Orang yang naik sepeda kayuh sering mengeluh sepeda mereka sudah ketinggalan zaman. Mereka tidak berpikir bahwa masih banyak orang yang bahkan tidak punya kendaraan apa-apa. 

Orang yang tidak punya kendaraan apa-apa seringkali mengeluh kenapa mereka harus selalu berjalan kaki kemana-mana. Mereka tidak berpikir bahwa banyak orang yang tidak punya kaki sungguh mengharapkan bisa berjalan dengan kaki mereka sendiri. 

Orang yang tidak punya kaki seringkali mereka mengeluh kenapa mereka tidak punya kaki. Mereka lupa bahwa mereka lebih beruntung daripada orang mati. Orang mati tidak punya hidup. Sedangkan mereka masih hidup walaupun tanpa kaki. 

Masalah adalah tanda kehidupan. Memiliki masalah adalah tanda bahwa kamu hidup.

Bersyukurlah sebesar apa pun masalahmu. Karena kamu tidak pernah sendiri. 

Reading makes You know the World ; Writing makes the World knows You

That’s right!

Saya lupa pertama kali baca ungkapan ini dimana, tapi bunyi ungkapan ini terus terngiang di pikiran saya karena sangat menarik. Kata-katanya simpel saja, tapi artinya dalam. Membaca membuatmu mengenal Dunia ; Menulis membuat Dunia mengenalmu.

• Membaca •
Ungkapan klasik “Buku adalah Jendela Dunia” memang benar adanya. Dengan membaca buku, kita bisa travelling ke seluruh belahan dunia. Kok bisa? Dulu waktu kecil, saya juga sering menanyakan hal yang sama. Kok bisa? Itu kan mustahil! Masa keliling dunia dengan buku?

Seiring waktu, saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Sederhana sebenarnya. Sesederhana menyeduh kopi susu setiap pagi, untuk dinikmati bersama dengan sekeping biskuit atau sepotong roti.. ☕🍮🍪

Menurut saya, penjelasannya begini : Setiap buku pasti punya latar belakang tempat, situasi kondisi, budaya, dan pengetahuan-pengetahuan yang tersirat – dalam plot cerita. Saat kita membaca buku, berarti kita sekaligus menyelami ‘seluruh dunia’ dalam buku itu. Intinya, pengetahuan kita akan bertambah tanpa kita perlu kemana-mana. Kita bisa mengetahui setiap pagelaran ilmu yang ditawarkan sang pengarang. Terus apanya yang travelling? Jawabannya adalah : Pengetahuan kita lah yang travelling, bukan fisik kita.

Mungkin orang yang kritis akan menyahut begini : Kalau dari teenlit atau chicklit atau novel roman – pengetahuan apa yang bisa dipetik dari sana?

Banyak.

Penjelasan panjang lebar saya mungkin terdengar lebih masuk akal kalau konteks bukunya adalah buku klasik yang notabene latar belakangnya selalu jelas. Misalnya Oliver Twist karangan Charles Dickens, yang latar belakangnya adalah masa Revolusi di Inggris, menguak waktu dan nasib rakyat yang miskin dan tertindas ; Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang menyoroti tentang politik penjualan budak kulit hitam di Amerika ; ataupun Emma karya Jane Austen yang meskipun hampir seluruhnya dibalut romansa tapi mampu membawa kita ‘berpetualang’ ke dimensi waktu Emma hidup.

Saya pribadi berpendapat bahwa setiap buku memiliki pengetahuannya sendiri, baik tersurat atau pun tersirat. Teenlit atau chicklit dalam opini saya tergolong dalam buku berisi ‘ringan’ yang menawarkan cerita tentang kehidupan sehari-hari, terutama perihal percintaan. Meskipun isinya ‘ringan’ bukan berarti tidak ada pengetahuan di dalamnya. Coba saja membacanya.. Banyak juga kok yang bisa dipetik dari sana. 🙂

• Menulis •
Menulis berarti membagi apa yang kamu pikirkan, inginkan, dan rasakan. Seperti saya yang menulis di blog ini, hanya ingin menyuarakan pendapat dan apa yang saya pikirkan sekarang. Bukan untuk maksud agar dikenal orang. Saya lebih memilih menjadi orang merdeka yang bisa bebas menyuarakan aspirasi saya walau hanya lewat tulisan-tulisan di buku harian ini.

Lewat menulis juga kan, para pengarang yang saya sebutkan di atas bisa dikenal oleh seluruh dunia? Bahkan karya-karya mereka abadi, tak lekang dimakan waktu. Kalau mereka tidak menulis, tidak akan ada bahan bacaan buat Anda dan saya hari ini. Mengutip ucapan Pramoedya Ananta Toer : Kalau kamu tidak menulis, kamu akan hilang dari sejarah.

Jadi, selamat menulis! Bereksplorasi lah dengan aksara.. karena aksara yang tertata itu mendamaikan jiwa 🍁


Inspirasi Puisi yang Berbeda Setiap Waktu

Menulis puisi buat saya tidak gampang. Kadang saya bisa menyusun puisi dengan kata-kata yang mampir dalam pikiran saya, tapi lebih sering saya membutuhkan banyak inspirasi untuk membuat tiap baitnya. Tidak sekedar mencampur adukkan kata-kata yang kedengarannya puitis.

Biasanya, inspirasi saya datang dari film yang sedang saya tonton, buku yang saya baca, atau lagu yang saat ini menjadi favorit saya, yang bisa saya putar berkali-kali tanpa merasa bosan.

Kali ini, yang menjadi inspirasi saya adalah sebuah lagu ballad era 1960-an yang merefleksikan sebuah potret kemanusiaan, sebuah situasi yang dialami orang-orang Yahudi selama masa Holocaust. Judulnya adalah Donna Donna / Dana Dana / Dos Kelbl / The Calf / Anak Sapi. Lagu ini awalnya merupakan sebuah lagu teater Yiddish. 

Saya memang bukan pecinta lagu ballad. Tapi begitu melihat scene sebuah film dokumenter dimana lagu ini dinyanyikan dengan iringan petikan gitar, saya jatuh cinta. 

Diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan dikomposeri oleh Sholom Secunda (1894-1974), lagu yang awalnya berbahasa Yiddish ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz pada pertengahan tahun 1950-an. Pada tahun 1960, lagu ini dinyanyikan oleh Joan Baez, dan pada tahun 1965, dinyanyikan kembali oleh Donovan. Tahun 2005, lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia, Sita RSD sebagai pengisi soundtrack film dokumenter Gie. Favorit saya adalah yang versi Sita. ❤

Irama ballad yang khas dan sederhana dengan lirik perumpamaan seekor anak sapi yang akan disembelih dan seekor walet yang terbang bebas ini sungguh membuat saya trenyuh dan terbayang korban-korban Nazi yang dibunuh dalam kamar gas waktu itu. Inilah yang menjadi dasar puisi-puisi saya saat ini, yang lebih menyoroti potret kemanusiaan. Potret antara si kaya dan si miskin, sang penguasa dan si tertindas. 

Buat saya, lagu ini adalah lagu sepanjang masa. Relevan untuk masa itu, relevan juga hingga kini. Di setiap belahan dunia, saya rasa lagu ini juga memiliki relevansi 🙂

Saya kagum sekali dengan penulis lagu ini, yang mampu merefleksikan dengan jelas kondisi sosial masa itu dengan kiasan-kiasan yang tepat. Saya hampir yakin bahwa setiap orang yang mendengarkan lagu ini juga akan tersentuh dan terngiang-ngiang situasi kelam itu.